Sapa Media #3, Mengenal Proses Pembuatan dan Uji Klinis Vaksin Covid-19

By 30/07/2020Berita BKHH

Jakarta, Humas LIPI. Pada Selasa (28/7) lalu, Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menggelar kegiatan Sapa Media secara daring. Pada Sapa Media edisi ketiga ini, LIPI mengajak media-media nasional mengenal proses pembuatan vaksin dan uji klinis vaksin terhadap SARS-CoV2, virus penyebab Covid-19.

Vaksin merupakan zat atau senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Ditengah pandemi Covid-19 ini, keberadaan vaksin terhadap SARS-CoV2 sangat dinantikan.

Saat ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, bekerja sama dengan banyak pihak untuk dapat menemukan vaksin produksi Indonesia. “Hasil uji klinis yang dilakukan di Bandung tentunya sangat diharapkan dan dinantikan hasilnya, karena akan terlihat potensi bagaimana Indonesia dapat secara mandiri memproduksi vaksin,” ujar Deputi Bidang Ilmu Teknik LIPI, Agus Haryono.

Laboratorium Bio Safety Level 3 (BSL 3) LIPI saat ini menjadi fasilitas pendukung pengujian vaksin. Kepala BSL 3 LIPI, Ratih Asmana Ningrum, menjelaskan bahwa pada dasarnya vaksin berarti mengambil keseluruhan atau sebagian mikroba atau pathogen, yang kemudian dilemahkan agar tidak berbahaya saat dimasukkan ke dalam tubuh.

“Tujuan pemberian vaksin adalah membuat tubuh mengenali jenis mikroba atau pathogen, sehingga jika ada pathogen yang sama masuk ke dalam tubuh, tubuh kita sudah tahu cara menghadapinya (membentuk atibodi),” ujar Ratih.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Wien Kusharyoto, menjelaskan ada banyak jenis vaksin. Untuk vaksin SARS-CoV2, LIPI memilih mengembangkan vaksin rekombinan sub-unit, yang berarti vaksin diambil hanya dari bagian tubuh virus, yaitu protein spike (protein S).

Wien menjelaskan Protein Spike dan Receptor Binding Domain (RBD) saat ini menjadi kandidat utama sebagai antigen yang potensial. Tujuan utamanya adalah membentuk antigen untuk meningkatkan sistem imun.

Kendati demikian, Wien menjelaskan bahwa proses pengembangan vaksin hingga dapat diproduksi massal dan digunakan pada manusia dengan benar-benar aman membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ada beberapa tahapan uji klinis yang harus dilakukan untuk memastikan vaksin bekerja dengan efektif dan aman.

“Ada banyak aspek yang harus dibahas. Kita tidak hanya mengembangkan kandidat vaksin itu sendiri, namun ada pula pemilihan partner penelitian yang tepat, dan uji pra klinis. Jika memang semua bagus maka baru bisa lanjut ke uji klinis tahap satu,” ujar Wien.

Wien menjelaskan bahwa pada uji klinis tahap satu, vaksin siap diujikan ke manusia untuk melihat keamanan vaksin dan dosis yang tepat. “Pada tahap ini biasanya diujikan ke 45 relawan untuk kemananan dan pengujian dalam dosis berbeda agar diketahui dosis mana yg lebih tepat dan lebih aman. Pada tahap ini juga dievalusi repson kekebalan apakah antibodi sudah dapat diperoleh,” jelas Wien.

Tahap kedua uji klinis vaksin ditujukan untuk melihat efisiensi vaksin pada lebih banyak relawan dengan rentang usia yang lebih luas. Jika uji klinis ini berhasil, maka vaksin masih harus melalui uji klinis tahap tiga, yaitu evaluasi reaksi tubuh relawan terhadap vaksin.

“Tahap ketiga, kita melihat apakah respon kekebalan yang diharapkan sudah sesuai. Apakah dari vaksin tersebut sudah diperoleh antibodi yang menetralisir virus,” Wien menambahkan. Jika tahapan-tahapan tersebut berhasil, barulah vaksin dapat dilisensi agar selanjutnya dapat diproduksi dan dipasarkan secara massal dengan prosedur penggunaan yang aman.

Wien menjelaskan, vaksin yang dikembangkan LIPI saat ini merupakan vaksin pengembangan tingkat lanjut. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika vaksin yang sudah dikembangkan ternyata kurang efektif. (sr)

Leave a Reply