Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menyelenggarakan kegiatan pembinaan ilmiah secara daring. Kali ini menghadirkan kegiatan Scibinar Talk to Scientists dengan Tema “Kontribusi Peneliti Muda di Bidang Kedokteran dan Fisika” pada Hari Senin Tanggal 27 Juli 2020. Narasumber kegiatan ini adalah dua peneliti muda pemenang LIPI Young Scientist Awards (LYSA). Pemenang 2017 dr. Gunadi, PhD, SpBA, Dosen Universitas Gajah Mada dan pemenang LYSA 2019 Dr. Ahmad Ridwan Tresna  Nugraha, M.Sc, peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI. Narasumber dengan dua bidang yang berbeda namun memiliki kompetensi mumpuni dan sumbangsih yang besar terhadap dunia penelitian yang ditekuni.

Dalam sambutan pembukaan, Plt. Kepala Bagian Humas Dyah Rachmawati Sugiyanto mengatakan bahwa LIPI melalui ajang LYSA memberikan apresiasi kepada peneliti muda berbakat dan berprestasi yang telah memiliki banyak publikasi internasional dan sitasi di Jurnal Internasional (SCOPUS dan Google Scholar Profile). Tidak hanya dari jumlah publikasi dan sitasi, LYSA melihat rekam jejak penelitian peneliti muda Indonesia yang secara konsisten bergerak dalam bidang penelitiannya. “Tahun ini, sebagai bagian dari pembinaan ilmiah, LIPI kembali membuka pendaftaran bagi para peneliti muda untuk meraih LYSA 2020. Bagi yang berminat, informasinya dapat diunduh di laman https://lysa.lipi.go.id/. Bagi SahabatLIPI yang memiliki kompetensi, kami undang untuk bergabung menjadi bagian dari peneliti muda yang berkontribusi dan memberikan inspirasi bagi generasi muda lainnya”, sambung Dyah Rachmawati Sugiyanto.

dr. Gunadi, PhD, SpBA, selain seorang dosen juga seorang dokter bedah anak ini lahir di Banyuwangi. Alumni SMAN 1 Giri Banyuwangi 1998 menyelesaikan pendidikan S1 Kedokterannya di Universitas Gajah Mada, meraih S3 di Kobe University, Japan dan pernah menimba illmu post-doctoral di RIKEN CDB, Japan serta Johns Hopkins University, USA. Meraih gelar spesialis bedah anak pada tahun 2016 dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.

Gunadi menyampaikan materi ‘Perkembangan Riset Medis Genetik Khususnya di Bidang Pediatric Surgery (Bedah Anak)”. Dijelaskan jumlah dokter bedah anak di Indonesia masih sangat kurang. Saat ini baru ada 147 dokter bedah anak di Indonesia, sedangkan jumlah anak di Indonesia berjumlah sekitar 100 juta dan sepertiga jumlah dokter bedah yang ada berada di Jabodetabek. Gunadi mendapatkan penghargaan atas hasil inovasinya mengidentifikasi penyebab awal penyakit Hirschsprung, lewat penanda genetik. Sebagai informasi, Hirschsprung merupakan penyakit tidak terbentuknya sistem saraf usus, sehingga berimbas susah buang air besar sejak lahir dan perut menjadi kembung. Pada kasus penyakit Hirschsprung pada umumnya identifikasi dilakukan dengan metode biopsi, atau tindakan diagnostik yang dilakukan dengan mengambil sampel jaringan atau sel sedangkan Gunadi mengidentifikasi penyakit Hirschsprung melalui darah lewat penanda genetik. “Mendevelop lingkungan, networking, dan kolaborasi”, tegas Gunadi tentang tips untuk menghadapai tantangan yang dihadapi.

Dr. Ahmad Ridwan Tresna  Nugraha, M.Sc., peneliti muda diaspora LIPI dengan peminatan bidang Fisika Teoritis dan Komputasi spesialisasi Fisika Material, Optika Kuantum dan Konversi Energi di Pusat Penelitian Fisika LIPI. Ahmad kembali ke tanah air setelah 11 tahun lamanya mengembara di Negeri Matahari Terbit untuk sekolah dan bekerja sebagai Assistant Professor, Department of Physics, Graduate School of Science, Tohoku University, Japan (October 2014 – September 2019). Selama mengenyam sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), ia berhasil menyabet gelar Mahasiswa Terbaik di Tahun Pertama kuliah S1-nya dan Mahasiswa Berprestasi Utama di Jurusan Fisika ITB serta Peringkat Dua Mahasiswa Berprestasi Utama di Fakultas MIPA ITB tahun 2005. Setelah lulus Sarjana tahun 2008, Ahmad melanjutkan S2 dan S3-nya di Tohoku University, Japan hingga tahun 2013 dengan beasiswa dari MEXT Scholarship for Master and Doctor Courses in Tohoku University, Japan dan Tohoku University Global COE Research Grant for Students.

Ahmad Ridwan Tresna  Nugraha menyampaikan materi “Potensi Belajar Fisika Teori dan Komputasi: Mau Jadi Apa?”. Dalam paparannya dijelaskan bahwa Indonesia masih sangat kekurangan peneliti, generasi muda diharapkan dapat mengisi kekosongan tersebut. Walau Indonesia masih kekurangan peneliti tetapi ada bidang-bidang tertentu Indonesia cukup kuat di dunia penelitian, yaitu di bidang fisika dan astronomi serta bidang kedokteran. Bidang fisika teori dan komputasi menawarkan peluang karier yang luas dan penghidupan yang “lumayan”. Fondasi yang diberikan oleh ilmu fisika sangat bermanfaat untuk bekal karier, dari peneliti hingga wirausahawan. Peneliti berlatar belakang fisika teori dan komputasi mudah menyeberang ke bidang ilmu lain. Aktivitas/produktivitas penelitian juga tidak banyak terganggu oleh bencana pandemi. “Lingkungan kerja yang mendukung dalam kerjasama dan kompetisi, serta publikasi ilmiah. Tantangan dalam publikasi ilmiah bisa dihadapi dengan banyak  baca buku ilmiah untuk dapat menulis yang lebih baik” jawab Ahmad Ridwan Tresna  Nugraha tentang tantangan yang dihadapai oleh peneliti.

Leave a Reply