Generasi Sains Indonesia: Produktif!

By 23/07/2020Berita BKHH

Memperingati Hari Anak Indonesia Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menegaskan peranannya sebagai lembaga pemerintah yang peduli dalam mencerdaskan bangsa. Melalui webinar Talk to Scientists yang mengusung tema “Generasi Sains Indonesia: Produktif”, LIPI mengajak publik untuk berdialog dengan ketiga narasumber yang berkecimpung dan berperan aktif dalam pengembangan minta riset bagi anak dan remaja terutama bagaimana mereka tetap produktif di kala pandemik COVID-19 melanda.

Diawali dengan memperkenalkan kembali program program pembinaan ilmiah bagi anak dan remaja Indonesia agar lebih mencintai riset dengan program pelatihan maupun kompetisi ilmiah,  webinar ini mengupas pengalaman unik alumni Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) 2019, ajang pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI) untuk generasi muda, yang berasal dari wilayah Indonesia. “Selain belajar ilmu penelitian, kita juga belajar bagaimana bersosialisasi dan berbaur dengan orang baru. Makin banyak teman, dan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru,” ujar Chris Maria Angelicue C. Sebagai perwakilan remaja dari belahan timur Indonesia, Maria juga menegaskan bahwa semangat riset remaja NTT tidak kalah dengan remaja Indonesia lainnya dan pengembangan diri menjadi hak yang sama bagi setiap anak.

Kepedulian terhadap perlindungan dan pemenuhan kebutuhan dasar anak Indonesia, seperti pendidikan dan kesehatan, menjadi momentum penting dalam peringatan HAN. Sadar akan dampak pandemi Covid-19 yang juga berpengaruh pada terbatasnya pemenuhan hak anak, LIPI memberikan wawasan baru kepada anak Indonesia bahwa pandemi ini bukan menjadi penghalang untuk tetap produktif dan berprestasi.

Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI yang juga telah berpengalaman sebagai Instruktur PIRN dan Mentor LKIR, Deshinta Vibriyanti, menjelaskan bahwa paling tidak ada tiga hak dasar anak Indonesia yang perlu dilindungi dan dipenuhi, yaitu pendidikan, kesehatan, dan hak untuk bermain. “Anak-anak Indonesia harus terampil dalam intelektual, sosial, dan seni,” ujarnya.

Namun, masa pandemi ini kemudian memberikan banyak keterbatasan untuk mereka memperoleh hak dasarnya tersebut, salah satunya dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan anak Indonesia untuk bersekolah secara daring. Keterbatasan ini seolah menghentikan langkah anak-anak untuk tetap berkreasi dan bersosialisasi. Padahal, menurut Deshinta, 30% dari penduduk Indonesia adalah anak-anak yang dimana dapat menjadi generasi yang produktif dan berkualitas di masa depan jika dapat dibimbing sejak dini.

Lalu, bagaimana untuk tetap produktif di masa pandemi ini? Hal sederhana seperti bangun pagi dan mandi adalah tips dari Deshinta untuk anak-anak Indonesia agar tetap produktif. “Semua perilaku adalah pengkondisian, Bagaimana kita mengkondisikan diri kita untuk belajar, akan berpengaruh pada hasil belajar kita,” ungkapnya.

Selain itu, melakukan penelitian di masa pandemi ini juga tetap bisa dilakukan. Sudah banyak kanal daring yang dapat digunakan untuk teknik pengumpulan data, seperti Google Form. Jika mengharuskan pengumpulan data melalui teknik wawancara juga tetap dapat dilakukan melalui saluran telepon maupun pertemuan virtual.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh narasumber termuda, Muhammad Rasyid Albanna, yang merupakan juara harapan 1 NYIA 2019. Masa pandemi ini tidak menghentikan Rasyid untuk tetap meningkatkan potensi dirinya. Belajar robotik dapat ia lakukan dengan menonton video dan bergabung pada grup robotik di media sosial. Selain itu, Rasyid juga tetap produktif dengan menjadi salah satu finalis International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2020, dengan invensinya berjudul “Say No Smoking Detector”.

Siswa yang baru saja masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pekalongan ini, bercerita bahwa ide penelitiannya kerap kali bersumber dari masalah pada lingkungan sekitarnya, sehingga alat yang ia buat diharapkan dapat menyelesaikan masalah tersebut. “Karena menjadi inventor dapat memecahkan masalah dan membantu banyak orang,” tuturnya.

Sependapat dengan hal tersebut, Deshinta mengatakan bahwa menggali ide penelitian dapat dilihat dari kondisi sekitar dan juga memperkaya ide dengan membaca tulisan ilmiah. “Dengan melihat permasalahan yang ada di masyarakat, kita teliti, kita cari solusinya, dan kita kombinasikan dengan penelitian-penelitian sebelumnya” tambahnya.

Namun, dengan situasi dan kondisi seperti ini, orang tua perlu menyadari bahwa anak-anak tetap hanyalah anak-anak yang butuh bermain dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Mendukung anak untuk tetap produktif pada masa pandemi ini tidak kemudian memposisikan anak pada kondisi yang terpaksa. Anak harus melakukan sesuatu dengan kemauan dan passion masing-masing. Selanjutnya, peran orang tua yang akan menjadi pendamping dan memberikan jalur serta memfasilitasi anak-anak tersebut. (sd/ed:yt)

Selamat Hari Anak Nasional! Anak Terlindungi, Indonesia Maju

#AnakIndonesiaGembiraDiRumah

Leave a Reply