Mengenal Virus dan Cara Kerja Vaksin di Dalam Tubuh

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menyelenggarakan kegiatan Ngobrol Bareng Peneliti (NGAPEL). NGAPEL kali ini mengambil tema Tema “Mengenal Virus dan Cara Kerja Vaksin di dalam Tubuh” pada Jumat (22/1). Narasumber NGAPEL edisi perdana di Tahun 2021 ini adalah Wien Kusharyoto, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, yang juga merupakan anggota Tim Penelitian LIPI Pembuatan Vaksin COVID-19.

Wien menjelaskan bahwa virus bukanlah makhluk hidup, tetapi sebuah partikel yang tubuhnya terdiri dari protein atau libida yang menyusun struktur atau partikel dari virus tersebut, namun di dalam partikel itu terdapat material genetik. Virus tidak bisa berkempang biak sendiri, artinya virus ini harus menginfeksi sel supaya bisa memperbanyak diri di dalam sel. Ketika memperbanyak diri virus memanfaatkan mekanisme perbanyakan diri baik itu dari arenanya atau dari DNA-nya yang secara alami terjadi di dalam sel. Virus memperbanyak diri dalam sel kemudian keluar dari satu sel ke sel yang lain untuk memperbanyak diri, begitu seterusnya.

Virus bisa masuk ke tubuh manusia melalui media yang lain seperti hewan. Ketika virus sudah masuk ke tubuh manusia, mereka berusaha untuk masuk ke dalam sel. “Ini karena ketika berada di luar sel, virus tidak berbahaya bagi manusia, karena langsung akan dieliminasi oleh kekebalan tubuh manusia. Namun virus akan dapat memperbanyak diri setelah masuk dalam tubuh manusia,” terang Wien.

Ada juga bentuk yang lain, yaitu bakteri, yang merupakan makhluk hidup berupa sel tunggal yang berkembang biak melalui membelah diri. Di dalam tubuh kita terdapat lebih banyak bakteri dari pada sel-sel manusia. Bakteri banyak ada di dalam telinga, dalam usus, maupun permukaan kulit. Tidak semua bakteri merugikan, beberapa bakteri menguntungkan manusia karena mereka juga menjadi semacam halangan untuk bakteri-bakteri patogen atau virus patogen yang lain yang ingin masuk ke dalam sel. Bakteri pada dasarnya ikut membantu agar kita tetap sehat. Pada dasarnya yang membedakan antara baik dan jahat adalah apakah kemudian mereka menyebabkan sakit atau justru melindungi kita dari sakit.

Secara alami tubuh kita akan menghasilkan antibodi. Semua orang yang terinfeksi akan menghasilkan antibodi. Hanya saja jumlah antibodi seseorang bisa saja kurang memadai. ”Bisa saja jumlahnya terlalu sedikit karena kondisi kekebalan seseorang, atau jumlah virus terlalu sedikit sehingga antibodi yang terbentuk juga sedikit. Jika jumlahnya sedikit maka dibutuhkan vaksin,” lanjut Wien.

Vaksin ditujukan agar tubuh manusia tidak terinfeksi dan tidak terdampak oleh infeksi virus yang masuk. Wien menjelaskan bahwa ada vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh sebagai protein. Efeknya akan sama saja, karena ini adalah benda asing yang masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan merespon dengan membentuk kekebalan yaitu membentuk antibodi. ”Vaksin itu ibaratnya seperti meniru virus. Seperti vaksin Sinovac yang dibuat dari virus yang sudah dimatikan dan disuntikkan ke dalam tubuh. Hasilnya akan menimbulkan respon kekebalan tetapi tidak menyebabkan sakit,” jelas Wien.

LIPI juga melakukan penelitian pembuatan vaksin COVID-19. Penelitian dimulai pada Juni 2020. Penelitian dimulai dengan mendesain protein kemudian membiakkan selnya. Vaksin dari LIPI rencananya berbentuk vaksin rekombinan artinya bentuknya protein rekombinan contohnya seperti vaksin hepatitis B, yang sudah biasa digunakan pada manusia.

Selain pembuatan vaksin Covid-19, LIPI juga telah melakukan uji klinis terhadap imunomodulator yang dibuat dari tanaman asli Indonesia. Immunomudulator ini diekstrak dari rimpang jahe, meniran, dan daun sembung yang dimanfaatkan untuk membuat tubuh kita mempunyai imunitas lebih tinggi.

Kepada generasi ilmiah Indonesia Wien Kusharyoto berpesan agar terus menerapkan protokol kesehatan sebagai penanggulangan pertama masuknya virus. “Melakukan protokol kesehatan yang ketat merupakan bentuk vaksin pertama yang kita bisa lakukan sebelum nantinya divaksinasi lebih lanjut,” pesan Wien.

Wien juga berpesan, sebagai generasi ilmiah Indonesia, kita harus mencari sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya. “Kita harus teliti menelaah kebenaran informasi yang diperoleh. Kita harus membandingkan dahulu dengan sumber-sumber yang bisa dipercaya,” tutup Wien. (tbi/ ed: sr)

 

Media Briefing LIPI Bahas Upaya Percepatan Pemulihan Ekonomi Indonesia

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Studi Ketahanan Pangan, Pusat penelitian Ekonomi LIPI melalui survei cepat pada 15 September-5 Oktober 2020 dari sampel 1489 responden menghasilkan temuan dalam kondisi, yaitu : 35,93% food insecure, 23,84 % marginal food security, 12,09% ketahanan pangan rumah tangga yang rendah, 10,14% low food security (LFS), dan 1,95% very low food security (VLFS). “ Adapun karakteristik responden dalam kondisi LFS dan VLFS memiliki pekerjaan dengan pendapatan tidak tetap dan tingkat pendapatan rendah,” ungkap Purwanto, peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, disampaikan dalam acara daring media briefingOutlook Perekonomian 2021, Upaya Mempercepat Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi, pada Kamis (17/12) lalu.

“Responden pada kelompok ini berusaha bertahan dalam kondisi pandemi COVID 19 dengan mengambil tabungan (terdiri dari 23% LFS dan 20% VLFS); menjual aset (meliputi 16% LFS dan 25% VLFS); dan berhutang sebesar 18% LFS dan 13% VLFS,” tutur Purwanto.

Purwanto, memberikan Rekomendasi Kebijakan pada stakeholder kunci: Kementerian Pertanian, Kemensos, Kemenkominfo, dan Bulog, diantaranya: (1).Melanjutkan program perlindungan sosial sepanjang 2021 dengan target dan sasaran yang lebih akurat serta mekanisme penyaluran bantuan lebih efisien; (2). Menyempurnakan data Single Identity Number (SIN) dan Social Safety Net (SSN); (3). Meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional; (4). Optimalisasi peran Bulog pada penguatan kapasitas logistik komoditi pangan strategis; (5). Mengedukasi masyarakat terkait dengan diversifikasi pangan lokal.

Kemudian, survei Kewirausahaan pada Juli 2020, responden dari 679 UMKM, ditemukan 70% mengalami penurunan penjualan dan 60% mengalami penurunan keuntungan. Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, M. Soekani, mengatakan, penurunan keuntungan disebabkan oleh peningkatan biaya produksi seperti bahan baku, transportasi dan biaya tenaga kerja. “ Kondisi pandemi menyebabkan UMKM mengalami gangguan dengan potensi resiko yang cukup besar baik kredit macet, PHK, kebangkrutan, supply & demand menurun secara lebih makro,” papar Soekarni.

Terkait kondisi tersebut, Soekarni merekomendasikan untuk UMKM, yaitu: (1). Melanjutkan stimulus ekonomi: bantuan modal, akses perizinan dan pengembangan inkubasi bisnis; (2). Melakukan penyebarluasan informasi produksi, penyerapan produk oleh BUMN/pemerintah, dan membantu go online; (3). Membangun basis data terintegrasi antar Kementrian; (4). Penguatan aliansi strategis BUMN dengan UMKM dan LPM: permodalan, pemasaran, pelatihan dan adopsi teknologi; (5). Peningkatan kemampuan inovasi UMKM; (6). Pendampingan transfer knowledge, teknologi dan literasi; (7). Mengeluarkan kebijakan transformasi digital

Lebih lanjut, upaya menghadapi tantangan Perdagangan Internasional dalam kondisi pandemi ini, peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Zamroni Salim, merekomendasikan melalui upaya jangka pendek, menengah dan/atau panjang. Jangka pendek, mengatasi melemahnya permintaan global harus disikapi dengan meningkatkan perdagangan antar pulau dengan memberikan insentif fiscal sesuai No. 44/PMK.03/2020.” Insentif pajak untuk wajib pajak berupa pengembalian PPN, pengurangan angsuran PPH Pasal 25 sebesar 30%, pembebasan PPH Pasal 22 Impor kepada perusahaan orientasi ekspor dan perdagangan antar daerah,” sebut Zamroni.

Untuk rekomendasi jangka menengah dan/atau panjang, Zamroni merekomendasikan perlu adanya review terhadap sejumlah perjanjian yang memungkinkan untuk memasukkan klausul dukungan pada UMKM dan keterlibatannya dalam Global Value Chain atau akses pasar secara umum. “Termasuk upaya pengembangan kawasan industri untuk investasi melalui skema perjanjian bilateral dan perluasan pasar ekspor ke negara mitra potensi dengan cakupan yang lebih luas,”sebut Zamroni. (dsa/ed:mtr)

 

Polusi Plastik Ancam Kehidupan Laut dan Manusia

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Penggunaan plastik dalam berbagai kegiatan manusia menyebabkan produksi plastik semakin meningkat. Polusi plastik awalnya dilihat sebagai masalah estetika. “Banyak penelitian selama beberapa dekade terakhir menunjukkan biota laut yang terkena dampak negatif oleh adanya plastik, terutama salah makan dan tersangkut atau terjerat,” tutur Reza Cordova Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI).

Ia mengatakan, pada tahun 2050 diprediksi jumlah sampah plastik akan melebihi jumlah ikan, dan jumlah mikroplastik melebihi plankton laut. “Hal ini dapat mengancam kehidupan laut dan juga manusia,” ungkapnya saat siaran audio on demand (podcast), kolaborasi antara LIPI melalui Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas bersama Podme, di Studio Metro TV Jakarta, Kamis (18/12) lalu.

Reza menjelaskan, Plastik merupakan jenis makromolekul yang dibentuk dengan proses polimerisasi, yaitu proses penggabungan beberapa molekul sederhana (monomer), melalui proses kimia menjadi molekul besar (makromolekul atau polimer). “Untuk membuat plastik, salah satu bahan baku yang sering digunakan adalah naphta, yaitu bahan yang dihasilkan dari penyulingan minyak bumi atau gas alam,” jelasnya.

Indonesia dianggap sebagai salah satu penghasil sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia. “Informasi polusi sampah dan dampaknya terhadap organisme laut secara resmi di Indonesia masih terbatas. Disisi lain penelitian tentang sampah plastik di ekosistem perairan laut masih sedikit dilakukan di Indonesia,” tambahnya.

Menurut Reza, pemecahan masalah sampah plastik di laut perlu dilakukan untuk mendukung Sustainable Development Goal 2030. Pada World Ocean Summit tahun 2017, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman menyatakan, Pemerintah Indonesia hingga 2025 akan mengalokasikan dana sebesar Rp. 13 triliun per tahun untuk menurunkan 70% sampah laut. Hal tersebut menunjukan pentingnya kajian penelitian terkait sampah laut. Sampah plastik secara umum terbagi menjadi ukuran besar dan ukuran mikroskopis.

Reza Mengungkapkan, jenis sampah ditemukan dari seluruh area monitoring pantai adalah kategori plastik dan karet, logam, kaca, kayu (olahan), kain, lainnya, serta bahan berbahaya. Sampah dominan berasal dari plastik (36-38%) di seluruh area kajian. Berdasarkan analisis perhitungan diperkirakan 300.000 – 600.000 ton plastik pertahun yang ‘dihasilkan’ masyarakat Indonesia masuk ke laut Indonesia. Mikroplastik ditemukan pada seluruh lokasi kajian baik pada permukaan air, sedimen maupun pada tubuh ikan. Mikroplastik ditemukan 75% pada Ikan kepala timah di Jakarta, dengan jumlah 1.97 partikel per individu. Walaupun relatif rendah, hal ini perlu diwaspadai mengingat dampak lain dari mikroplastik yang belum banyak diketahui.

Oleh karena itu P2O LIPI tengah melakukan monitoring sebaran mikroplastik serta dampak pengaruhnya pada ekosistem laut serta dapat memberikan kontribusi dalam pengelolaan sampah laut. “Mengingat penggunaan plastik yang tinggi, P2O LIPI merencanakan kajian penelitian mikroplastik untuk jangka panjang yakni pengaruh mikroplastik pada biota laut, lingkungan serta pada kesehatan manusia,” tutup Reza. (swa/ed: drs)

 

BKHH LIPI Menimba Ilmu dan Strategi Fungsi Humas dan Protokol

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerjasama Hukum dan Humas (BKHH) mengundang Koordinator Sekertaris Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kegiatan Forum Group Discussion Humas dan Protokol, yang dilaksanakan secara virtual pada Kamis (18/12) di Jakarta. Kegiatan tersebut digelar karena LIPI ingin menimba ilmu mengenai fungsi kehumasan dan keprotokolan dari pihak-pihak yang lebih berpengalaman.

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI, Mila Kencana menyampaikan bahwa fungsi keprotokolan masih terhitung baru untuk BKHH, sehingga perlu adanya koordinasi agar fungsi tersebut dapat dilakukan dengan baik. “Kendati masih baru, LIPI sebagai lembaga riset pemerintah perlu mempelajari bagaimana menjalankan fungsi protokol dengan baik agar membentuk citra lembaga yag baik dan menunjang kelancaran kegiatan,” ujar Mila saat membuka forum diskusi.

Sekretaris Utama LIPI, Nur Trie Aries Suestiningtyas menambahkan, LIPI tidak lagi dilihat sebagai menara gading atau lembaga riset yang hanya dapat dilihat dari jauh tapi tidak dekat dengan masyarakat. Namun, di saat bersamaan, wibawa sebuah lembaga melalui citra pimpinan harus tetap dijaga. “Oleh karena itu, fungsi humas dan protokol harus berjalan beriringan. Humas dan Protokol LIPI harus dapat lincah dan memposisikan diri dengan baik.”

Koordinator Sekretaris Pimpinan KPK, Heni Rosmawaty sebagai narasumber memberikan banyak wawasan mengenai keprotokolan di KPK. Ia menyebut, sejak 2018 fungsi protokol beralih dari bagian humas ke sekretariat pimpinan. “Hal ini karena protokol sangat melekat dengan pimpinan. Seorang protokol harus dapat mengatur jalannya kegiatan pimpinan dari mulai menganalisa undangan hingga memastikan pimpinan dapat mengikuti acara tersebut dengan lancar,” papar Heni.

Strategi Humas dan Protokol

“Mulai dari undangan untuk pimpinan harus dianalisa apakah kegiatan tersebut cocok untuk dihadiri pimpinan atau dapat diwakilkan saja. Protokol harus memastikan penyelenggara kegiatan adalah instansi yang kredibel,” jelas Heni mendetail. ”Pada hari-H kegiatan, protokol harus datang satu jam sebelum acara dimulai untuk meninjau ruangan dan berkoordinasi dengan protokol instansi lain. Sehingga saat pimpinan datang, kita dapat menyambut dan pimpinan tidak kebingungan.”

Heni menekankan bahwa seorang humas dan protokol, selain lincah, harus dapat cakap dalam berbagai hal. “Humas dan protokol harus selalu siap kapan saja saat diperlukan dan tidak kaku dalam satu keahlian. Sehingga saat dibutuhkan menjadi MC, pemandu lagu, fotografi, atau reporter, kita akan siap,” terang Heni.

Kemampuan komunikasi yang baik harus dimiliki seluruh humas dan protokoler. Hal ini termasuk komunikasi internal dengan pimpinan dan pihak-pihak yang bersangkutan. “Pertemuan-pertemuan ringan seperti coffee morning dengan struktural, konsultasi langsung dengan pimpinan, berkomunikasi dengan pimpinan yang sudah purnabhakti, atau kotak saran dapat membuka ruang komunikasi untuk menggali masukan demi kemajuan bersama,” saran perempuan yang sudah bekerja di KPK selama sepuluh tahun itu.

Heni menyarankan, Humas LIPI yang baru menjalankan fungsi protokol dapat membuka ruang komunikasi eksternal seluas-luasnya untuk membangun koneksi dan memperkenalkan diri. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan pertemuan formal maupun informal dengan protokol instansi-instansi lain.

Terakhir, Heni menyatakan bahwa hal yang paling penting dalam menjalankan fungsi protokol adalah ketulusan melayani pimpinan. “Protokoler adalah jembatan komunikasi, sehingga dalam harus sabar dalam berkoordinasi dan peka dalam berkomunikasi. Yang terpenting kita harus melayani pimpinan dengan hati yang tulus,” tutup Heni. (ks/ed: sr)

Kemenkominfo Usulkan Jenjang Utama Pranata Humas

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Kementerian Komunikasi dan Informatika mengusulkan perubahan Peraturan Menteri PAN-RB (Permen PAN-RB)) Nomor 6 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Pranata Hubungan Masyarakat dan Angka Kreditnya,. Hal itu disampaikan oleh Santhy Verawati Elfrida Pranata Humas Muda Kemenkominfo, dalam webinar‘Bimtek Penilaian Angka Kredit Jabatan Fungsional Pranata Humas di Lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)’, Selasa (15/12) kemarin.

Lebih lanjut Santhy menyampaikan Kementerian Kominfo juga sudah mengusulkan untuk adanya jenjang jabatan dan pangkat/ golongan ruang pada tingkat Ahli Utama. Usulan tersebut berdasarkan penghitungan pada kuantitas tugas dan pekerjaan Pejabat Fungsional Pranata Humas. Saat ini Kemenkominfo sedang mencari dan menyeleksi dua orang untuk diajukan dalam jenjang jabatan Ahli Utama, ucap Santhy dalam paparan yang disaksikan lebih dari 80 Pranata Humas LIPI.

Untuk kenaikan jenjang, seorang Pranata Humas harus memenuhi syarat seperti jumlah angka kredit sesuai ketentuan pada jenjang masing-masing, mengikuti uji kompetensi, dan ketersediaan formasi pada satuan kerjanya. Uji kompetensi jenjang tidak dibatasi, tapi dilihat seberapa deadline-nya bagi seorang pejabat fungsional Pranata Humas untuk naik jenjang, dan juga melihat kuota yang tersedia di instansi yang bersangkutan. Uji kompetensi bisa diadakan oleh instansi yang bersangkutan dengan mengundang Kominfo sebagai narasumber dan pengujinya. “Masa kadaluarsa hasil uji kompetensi adalah tiga tahun. Bilamana belum dapat naik jenjang dalam kurun waktu 3 tahun tersebut, maka yang bersangkutan wajib untuk ikut kembali uji kompetensi,” jelas Santhy pada acara yang difasilitasi oleh Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia LIPI.

Terkait turunan Peraturan Menteri PAN RB No. 13 Tahun 2019 Tentang Pengusulan, Penetapan, dan Pembinaan Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil, Santhy mengatakan bahwa saat ini Kominfo belum siap. “Mudah-mudahan tahun 2021 regulasi sudah bisa terealisasi. Nantinya turunan Permen PAN RB No. 13 Tahun 2019 salah satunya mengatur penilaian kinerja berdasarkan SKP yang berbasis fungsional,” ungkapnya. “Saat ini masih diberlakukan penilaian angka kredit berdasarkan DUPAK,” terang Santhy.

Di masa pandemi Covid-19, pemerintah dalam hal ini Kemenkominfo secara resmi telah menyetujui pengajuan bukti fisik kegiatan sosialisasi informasi/konten-konten terkait Covid 19 dapat dinilai. “Bukti yang dimaksud adalah konten yang dipublikasikan melalui kanal instansi maupun pribadi di akun media sosial. Juga untuk konten-konten yang bersifat mengkounter hoaks,” tutup Santhy. (sm/ed.drs)

 

 

 

Teknologi LIPI Jadikan Air Bekas Galian Tambang Siap Minum

By | Berita BKHH | No Comments

Bandung, Humas LIPI. Bentang alam Pulau Bangka mengalami perubahan akibat eksploitasi biji timah baik secara legal maupun illegal. Tidak sedikit lubang – lubang bekas galian yang kemudian berisi air [kolam], yang disebut “Kolong” muncul akibat tidak direklamasi. Kendati demikian, kolong – kolong tersebut justru menjadi sumber air baku bagi masyarakat sekitar. Masalahnya, kualitas air kolong seringkali buruk. Para peneliti LIPI meninjau sisi kimia, biologi, dan fisika dari air kolong tidak memenuhi standar baku mutu air yang layak konsumsi. Inilah salah satu pendorong perjanjian kerja sama antara UPT Balai Pengembangan Instrumentasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPT BPI LIPI) dengan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bangka Kabupaten Bangka.

Bertempat di Gedung 80 Kawasan Multisatker LIPI Bandung, Kepala UPT BPI LIPI Anto Tri Sugiarto dan Direktur PDAM Tirta Bangka Suhendra, melaksanakan penandatanganan kerja sama untuk meningkatkan penelitian, pengembangan, pemanfaatan teknologi air dalam pengelolaan air di wilayah perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Bangka Kabupaten Bangka, Jumat (12/11/2020). Suhendra menjelaskan kebutuhan air bersih di Kabupaten Bangka cukup krusial karena struktur air yang memiliki derajat keasamaan yang rendah dan berwarna. Dirinya percaya LIPI memiliki alat dan teknologi yang bisa membantu meningkatkan mutu kualitas air yang ada. Dirinya berharap secara bertahap transfer teknologi ini tidak hanya menyentuh aspek peningkatan kualitas air melainkan juga teknologi – teknologi lain seperti mendeteksi sumber air dsb. “Semoga ini terus berlanjut agar ke depan kami bisa mendapatkan hasil yang prima dan baik,” tegasnya.

Sementara itu, dalam acara yang difasilitasi Biro Kerja Sama Hukum, dan Humas LIPI, Anto menegaskan bahwa LIPI berupaya untuk mendukung kegiatan di daerah melalui kegiatan penelitian dan kerja sama. Termasuk program kerja sama saat ini yang sebelumnya telah diimplementasikan di wilayah Bangka Barat dimana teknologi pengolahan air kolong menjadi air PDAM telah berlangsung sejak 2015 – 2019. Ia menambahkan, UPT BPI LIPI akan menerapkan teknologi pengolahan air bekas tambang untuk air baku PDAM dengan teknologi plasma nanobubble terintegrasi monitoring dan IOT. Teknologi Plasma Nanobubble yang dikembangkan Balai Pengembangan Instrumentasi, LIPI.

Teknologi tersebut terdiri dari dua sub-sistem, yaitu: Plasma Generator dan Nano Bubble Generator. Nano bubble generator berfungsi untuk menambahkan oksigen terlarut dalam kolom air sebanyak 22 meter kubik per jam sehingga dapat mengaktifkan mikroorganisme pengurai yang hidup di kolom air maupun sedimen.“Sumber air baku PDAM yang berkualitas dan air siap minum,” tambahnya. Anto berharap perjanjian kerja sama yang berlangsung hari ini dapat terjalin hingga tahun – tahun mendatang sehingga alokasi kegiatan untuk pendampingan implementasi teknologi dapat berjalan dengan baik. (as/ ed:drs)

LIPI dan Belanda Tekankan Pentingnya Pembangunan Berkelanjutan Biodiversitas

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menekankan pentingnya upaya untuk meningkatkan pelestarian dan pembangunan berkelanjutan keanekaragaman hayati. “LIPI terus berkomitmen dalam pelestarian biodiversitas dengan memiliki program prioritas dari mulai konservasi hingga pemanfaatan baik in-situ maupun ex-situ,” ungkap Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko dalam pembukaan webinar “Biodiversity for Society and Society for Biodiversity” yang menjadi rangkaian acara Week of Indonesia-Netherlands Education Programs (WINNER) pada Selasa (24/11).

Dalam rangka memaksimalkan upaya pelestarian dan pemanfaatan, LIPI melakukan ekspansi pembangunan herbarium dan museum Zoologi di Cibinong Science Center (CSC) yang diperkirakan akan selesai dibangun pada 2021. Selain itu LIPI fokus dalam upaya ekstraksi eksperimen digital dari spesimen fisik yang dapat dilihat secara tiga dimensi ataupun dua dimensi. Upaya ini ditindaklanjuti dengan peningkatan fasilitas riset seperti Kebun Raya, Bioinformatics, Laboratorium Genomic dan Kimia yang dapat digunakan bersama oleh stakeholders di masa yang akan datang.
LIPI turut menyoroti pentingnya sistem Repositori Ilmiah Nasional (RIN) yang dapat menjadi akses penyimpanan dan pengelolaan berbagai data penelitian.  Pemanfaatan RIN terbuka secara umum dan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berasal berbagai latar belakang baik Lembaga Pemerintah, Universitas, Swasta maupun Industri. “Kami dapat menjamin terkait keamanan dan kerahasiaan data yang disimpan selama anda tidak membuka data tersebut dengan kehendak sendiri”, jelas Handoko

Melalui kesempatan ini, LIPI juga mengenalkan pengembangan program nasional baru yang diberi nama akuisisi pengetahuan lokal yang dapat diikuti oleh masyarakat Indonesia secara umum dengan mendaftarkan temuan pengetahuan lokal di sekitar mereka melalui LIPI Press.

Koos Biesmeijer, Scientific Director Naturalis Biodiversity Center (NBC) Belanda, menekankan pentingnya upaya untuk melestarikan dan pemanfaatan biodiversitas salah satunya melalui kolaborasi riset bersama untuk mengeksplor biodiversitas yang belum terjamah. “Naturalis melakukan kolaborasi dalam penelitian, ekspedisi dan kerja sama teknologi untuk DNA barcoding, salah satunya dengan Indonesia yang memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa sebagai upaya upaya penemuan, pelestarian dan pemanfaatan biodiversitas,” jelasnya.

Kepala Pusat Penelitian Biologi, Atit Kanti mengungkapkan bahwa manajemen biodiversitas Indonesia masih menghadapi banyak tantangan khususnya ancaman aktifitas illegal dan pemanfaatan yang tidak tepat, perubahan lahan, keterbatasan data terutama untuk endemik. Merespon hal tersebut LIPI memiliki enam program biodiversitas di antaranya pelestarian spesies yang hampir punah secara ex-situ, konservasi tumbuh-tumbuhan langka, ekspedisi biodiversitas, koleksi biodiversitas, bioprospeksi, dan regulasi biodiversitas. “Dalam hal ini kami menyambut baik dukungan penuh pemerintah dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan biodiversitas dengan memberikan LIPI pengembangan dan pembangunan fasilitas dan infrastruktur riset yang dapat digunakan bersama oleh mitra nasional dan internasional,” imbuhnya.

Webinar “Biodiversity for Society and Society for Biodiversity” yang merupakan rangkaian acara Week of Indonesia-Netherlands Education and Research (WINNER 2020) dipandu oleh Dirk Jan Koch selaku moderator dan sesi diskusi oleh panelis dari LIPI dan NBC di antaranya Atik Rahmawati dari LIPI, Cahyo Rahmadi dari LIPI, Willem Renema dari NBC, dan eter van Welzen dari NBC. (mra/ed: sr)

Sinergitas Penguatan Kecerdasan Buatan melalui “ASEAN Workshop on 4th Industrial Revolution”

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) sebagai focal point dari ASEAN Committee on Science, Technology and Innovation (ASEAN COSTI) menjadi tuan rumah dalam ASEAN Workshop on 4th Industrial Revolution: AI Implementation in Energy Efficiency, Cyber Security and Agriculture. Workshop ini diselenggarakan secara hybrid pada 24-25 November 2020-dan diikuti oleh peserta dari kalangan riset, usaha, dan pejabat pemerintah di seluruh Asia Tenggara. Acara ini terbagi menjadi tiga sasi pararel dengan tema kecerdasan buatan dalam keamanan siber, kecerdasan buatan dalam pertanian dan kecerdasan buatan dalam efisiensi energy.

Salah satu agenda ASEAN adalah merumuskan “ASEAN Innovation Roadmap” yang tidak hanya menjadi acuan bagi COSTI, tetapi juga berbagai sektor dan lembaga di ASEAN dalam tugas dan fungsinya terkait isu inovasi di era Revolusi Industri 4.0. “Hasil acara hari ini akan menjadi referensi tindak lanjut proyek menuju penyusunan apa yang disebut ‘ASEAN Innovation Roadmap’ dan pengembangan ‘Future Regional Concept Paper on Joint Research of Artificial Intelligence in ASEAN’,” ungkap Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brojonegoro.

Peneliti LIPI, Maxensius Tri Sambodo turut hadir menjadi pembicara kunci dalam sesi pararel pengembangan AI dalam efisiensi energi dan memberikan pandangan dari perspektif akademik. “Peran AI ada tiga yaitu competitive, susatainable development, dan inclusive. Inclusive merupakan elemen penting yang dapat membuka akses energy, ini sejalan dengan SDGs 7: memastikan ketersediaan energi” ujar Maxensius.

Maxensius mengungkapkan beberapa manfaat yang akan didapatkan dari penerapan AI dalam energy terbarukan antara lain mengurangi permintaan dan pemborosan energi, menghindari ekspolitasi dalam pasokan energi berbasis fosil, dan investasi untuk peralatan dan perlengkapan baru.

Di Indonesia, salah satu penerapan AI sektor energi yang menonjol adalah teknologi smart grid yang mencakup informasi modern dan mutakhir, serta teknologi komunikasi yang meningkatkan kualitas jaringan listrik sehingga lebih efisien, lebih andal, serta meningkatkan partisipasi konsumen dan integrasi energi terbarukan di sistem kelistrikan. Smart grid juga sudah masuk dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028. “Konsumsi listrik indonesia masih rendah dibanding Malaysia Vietnam, ini bisa jadi peluang buat Indonesia meningkatkan ketersediaan energy melalui AI,” jelas Maxensius.

Menyongsong revolusi industry 4.0, Indonesia terus berupaya menerapkan penggunaan dan pengembangan artificial intelligence. Dengan adanya teknologi digital yang mendorong dan mempercepat transisi energi, sektor energi modern menjadi semakin saling terhubung. Transisi energi yang saat ini berlangsung menyebabkan runtuhnya hambatan, membawa perubahan pasar, dan kemunculan pemain baru. (wit)

Belajar Bahasa Mandar dari ‘Miss Granny’

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Siapa yang tidak suka film drama Korea? Hampir setiap kaum hawa Indonesia khususnya, menyukai drama Korea. Baik itu aktornya, alur ceritanya, lokasi pengambilan filmnya, makanannya, bahkan sampai bahasanya disukai semua. Ternyata hal inilah yang menarik minat dua putri siswi SMA Negeri 1 Majene yaitu Isti Fathirah dan Dinda Rezky Audia untuk menjadikan drama Korea ini melalui teknik dubbing sebagai media pembelajaran Bahasa Mandar kepada rekan-rekanya di SMA Negeri 1 Majene.

Bahasa Mandar adalah bahasa dari daerah Mandar yang merupakan suku mayoritas di Provinsi Sulawesi Barat. Secara geopolitik kawasan Mandar terbentang dari Paku sampai Suremana, sekaligus sebagai batas Selatan-Utara Provinsi Sulawesi Barat. Bila didefinisikan sebagai suku, maka Mandar yang dimaksud adalah Tomadio (Campalagian) hingga Sendana atau daerah-daerah yang menggunakan bahasa Mandar (Ridwan, 2020).

Namun sayangnya penggunaan bahasan Mandar pada kalangan remaja sangat minim diterapkan. Kenyataannya bahasa Mandar ini hanya dituturkan oleh orang yang lebih tua dan anak yang berada di pedalaman. Sekarang ini, ditambah lagi masa pandemic Covid 19 ini, jaringan internet sebagai media digital sangat meluas hampir diseluruh wilayah Indonesia. “Sehingga tanpa disadari film-film berbahasa asing sangat mudah masuk ke Indonesia, terutama film-film Korea,” Tutur Isti dalam paparannya di sesi penjurian. Film Korea dengan para pemain, dan juga alur cerita yang dimiliki, menurutnya sangat unik dan tidak membosankan, membuat remaja dengan rela menghabiskan waktu menonton film Korea.

Melihat ketertarikan remaja terhadap film Korea, Isti dan Dinda mencoba memanfaatkan film Korea yang berjudul ‘Miss Granny’. Mereka memanfaatkan teknik dubbing sebagai media pembelajaran Bahasa Mandar sebagai bentuk kepedulian melestarikan bahasa lokal tersebut kepada rekan-rekannya di SMA Negeri 1 Majene. Isti dan Dinda yakin jika teknik dubbing menggunakan bahasa daerah dalam sebuah film bermanfaat untuk memberikan informasi kepada seluruh pihak dan mampu dijadikan sebagai media pelestarian suatu bahasa.

Ketertarikan tersebut, dituangkan oleh mereka dalam sebuah penelitian yang masuk dalam kategori Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan dengan judul penelitian ‘Pelestarian Bahasa Mandar Dengan Teknik Dubbing Melalui Film Miss Granny di SMA Negeri 1 Majene’.

Penelitian ini ditujukan kepada remaja di SMA Negeri 1 Majene. Penelitian dilakukan mulai Juli sampai dengan Oktober 2020. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan desain penelitian “one group pretest-posttest”. Sampel diambil sebanyak 255 orang menggunakan rumus slovin. Penentuan sampel dilihat melalui jawaban kuesioner identifikasi. Instrument penelitian yang diberikan berupa film “Miss Granny” yang telah di dubbing ke dalam Bahasa Mandar.

Film Miss Granny, mengisahkan seorang nenek yang tinggal bersama keluarga anaknya. Suatu hari menantunya jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit akibat stress, semua orang mengklaim bahwa dialah penyebab menantunya stress sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Karena curiga akan hal tersebut, putra dan cucunya ingin mengirimnya ke panti jompo. Sang nenek sangat kecewa ketika mengetahui bahwa ia akan dikirim ke panti jompo, dan meninggalkan rumah. Dalam perjalanan ia melihat studio foto dan bergegas untuk mengambil foto terakhirnya dan terjadilah keajaiban. Sang nenek berubah seperti gadis berumur 20 tahun. Film ini bernuansa keluarga yang bergenre komedi, namun kadang juga sedih tentang seorang nenek tua yang merasa ditelantarkan oleh anaknya. Film ini memberikan sudut pandang terhadap orang tua yang sudah berusia lanjut, juga dapat dijadikan sebagai pembelajaran kepada seorang anak yang telah memiliki keluarga untuk merawat orang tuanya. Saat penayangan film berlangsung terdapat scene-scene yang membuat wajah responden berekspresi. Mulai dari tertawa, serius hingga sedih.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa skor kuesioner pengetahuan yang dimiliki oleh remaja SMA Negeri 1 Majene memiliki perbedaan yang signifikan pada kuesioner pretest-posttest dilihat dari data yang diperoleh menggunakan uji wilcoxon. Nilai rata-rata remaja pada variabel persepsi sebelum diberi perlakuan sebanyak 53,18 sedangkan nilai rata-rata variabel persepsi setelah diberi perlakuan sebanyak 54,94. Nilai rata-rata remaja pada variable pengetahuan sebelum diberi perlakuan sebanyak 8,00 sedangkan nilai rata-rata variabel pengetahuan setelaah diberi perlakuan sebanyak 9,41. Sehingga dari hasil analisis jawaban ini menunjukkan adanya peningkatan yang dilihat melalui kuesioner pretest-posttest.

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa kosakata remaja SMA Negeri 1 Majene meningkat setelah diberikan perlakuan berupa menonton film dubbing ke dalam Bahasa Mandar. Dengan demikian, cara ini dapat menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja SMA Negeri 1 Majene mengenai kosakata dalam Bahasa Mandar sehingga bahasa ini tidak akan punah dan tetap lestari.

Isti dan Dinda berharap kreator film kartun, film sejarah, atau film fiksi yang bisa menggunakan bahasa lokal sebagai upaya untuk melestarikan bahasa daerah. “Dunia pendidikan juga bisa menerapkan kembali mata pelajaran muatan lokal (mulok), sehingga kedepannya generasi muda atau remaja lebih sering menggunakan bahasa sendiri agar tidak punah,” tutup Isti dan Dinda. (dsa/ed:drs)

 

Mengemas Nilai Toleransi dengan Stand Up Comedy, Siswi MAN Sabet Prestasi di LKIR LIPI

By | Berita BKHH | No Comments

Cibinong, Humas LIPI. “Alhamdulillah, tak disangka-sangka, senang sekali” seru Aziza Sugesti Roqima dan Ervina Soviani Nursiam . Itulah ungkapan jujur dari dua siswi MAN 2 Tulungagung ketika mendengar nama dan karya tulisnya disebut oleh pembawa acara dari LIPI, pada Kamis (19/1) yang disiarkan secara virtual berhubung pandemi Covid-19 masih melanda negeri.

Mengemas nilai toleransi dengam Stand Up Comedy menjadi andalah dua siswa MAN 2 Tulungagung yang ramah dan kreatif ini. Kondisi pandemi tidak menyurutkan langkah dan semangat keduanya mengikuti LKIR yang sudah kali ke-52 dihelat oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Perjuangan mereka berbuah manis dengan menyabet prestasi menjadi juara tiga tingkat nasional dalam ajang tahunan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Tahun 2020.

Memang LKIR tahun ini menjadi berbeda dan khas memanfaatkan kemajuan teknologi khas pandemi dimana tahapan perlombaan mulai membuat proposal hingga presentasi hasil karya semua dilakukan secara daring. Ribuan peserta mengirimkan karya terbaik mereka ke Panitia LKIR LIPI, namun hanya sepuluh karya saja yang diseleksi dan akhirnya dimentori langsung oleh para peneliti LIPI hingga tahap pengumpulan naskah akhir.

Tiga orang juri bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan yang terdiri Sarip Hidayat dari Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Alie Humaedi dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya LIPI, dan Dr. Ahmad Helmy Fuady dari Pusat Peneltian Kewilayahan telah memilih karya dua remaja asal Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempo yang berjudul “Banyolan Gus Dur: Solusi Mengedukasi Nilai-Nilai Toleransi Melalui Stand Up Komedi Berbasis Humor Gus Dur” layak mendapat peringkat ketiga di antara banyak karya ilmiah terbaik dari remaja berprestasi seluruh Indonesia.

Toleransi dan Jati Diri Masyarakat Indonesia

Menurut Ervina sebagaimana ia paparkan dalam videonya yang diunggah di kanal Youtube, masalah toleransi di Indonesia masih menjadi problem yang serius. Faktanya kasus-kasus kekerasan yang terjadi di masyarakat disebabkan karena intolerasi. Dalam catatan imparsial (2019), pada tahun 2019, telah terjadi 31 kasus intoleransi di Indonesia. Sedangkan menurut Wahid Institute (2014), sepanjang tahun 2012 malah terjadi sampai 278 kasus intoleransi.

“Munculnya kasus intoleransi yang ada di Indonesia dari tahun ke tahun menambah fakta dan data bahwa semakin hari semakin luntur jati diri masyarakat Indonesia yang pluralis dan toleran. Realitas ini membutuhkan solusi, dan perlunya edukasi untuk menyelesaikan persoalan intoleransi,” ujar rekannya Aziza.

Dirinya mengungkap bahwa humor mantan Presiden kempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur Gus Dur dapat dijadikan media edukasi nilai-nilai toleransi karena Gus Dur dikenal sebagai Bapak Toleransi Indonesia sekaligu sosok yang humoris.

Berdasarkan realitas tersebut, penelitian yang mereka lakukan bertujuan menjadikan lawakan khas anak muda milenial yakni stand up komedi dijadikan media mengemas toleransi berbasis humor ala Gus Dur. “Stand up komedi dapat menjadi media edukasi nilai-nilai toleransi yang dikemudian dianalisis efektivitasnya dengan mengemas humor banyolan Gus Dur”,” tutur Ervina.

Metode dan Hasil Penelitian ‘Banyolan Gus Dur’

Metode penelitian yang digunakan oleh kedua peneliti muda yang baru pertama kalinya mengikuti LKIR, menggunakan Mixed Method yakni gabungan data kualitatif dan kuantitatif. Data Kualitatif berasal dari Tanggapan Responden terhadap Hasil Stand Up Komedi Berbasis Humor Gus Dur sebagai Sarana Edukasi. Sedangkan Lokasi Penelitian dan Populasi dilakukan di sekolah dimana mereka menuntut ilmu yakni MAN 2 Tulungagung dan tentu saja siswa-siswanya yang memang Sebagian besar adalah teman-teman mereka. Adapun sampel terdiri dari 24 siswa Kelas X,XI, dan XII Jurusan IPA, IPS, Bahasa dan Agama yang ditentukan dengan Teknik Purposive Sampling.

Sementara waktu Penelitian dilakukan selama kurun waktu Maret sampai Oktober 2020. Menggunakan Teknik Analisa Data dengan membandingkan rata-rata (mean) hasil pre test dan post test untuk melihat peningkatan poin rata-rata. Selanjutnya menghitung indeks korelasi dengan aplikasi EXCEL. Hasil wawancara dan Observasi dianalisis secara deskriptif.

Tahapan Penelitian selanjutnya terdiri dari menentukan tema toleransi yakni toleransi agama, toleransi pemikiran, toleransi bahasa dan budaya, toleransi politik. Selanjutnya memilih humor Gus Dur, membuat narasi, penegasan pesan Toleransi, membuat uji validasi, membuat video Stand Up komedi.

Hasil penelitian kedua peneliti belia ini menunjukkan Stand up komedi berbasis humor Gus Dur efektif digunakan sebagai media penguatan wawasa nilai toleransi. Efektivitas stand up komedi berbasis humor Gus Dur terlihat dari peningkatan poin rerata nilai pre test sebesar 23,75 poin dengan indeks korelasi sebesar 0,72 (kuat).

Hal ini sangat menarik karena hasilnya tidak berbeda jauh dengan penelitian yang dilakukan para peneliti sebelumnya yakni tercatat Ari Ambarwati (2015) yang berjudul Pantun Humor sebagai Media Pendidikan Karakter Toleransi Bagi Siswa Sekolah Dasar. Hasil Penelitian itu menunjukkan pantun humor dengan redaksional tertentu bisa digunakan sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai toleransi.

Hal ini juga tidak berbeda jauh dengan yang dikemukakan Barelds dan Dijkstra (2010) tentang humor. Dikatakan, sense of humor mampu memberikan dampak positif jika terjadi konflik dalam suatu hubungan, atau mampu memberikan banyak pengatasan masalah yang efektif ketika mengalami stress.

Pada dimensi lain, efektifitas stand up komedi sebagai media edukasi ini juga sejalan dengan yang dikemukanan Guntur Wiguna (2010) tentang humor. Dikatakan, dengan humor kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan Humor, pikiran kita jadi sehat.

Tak heran memang dari tanggapan para responden penelitian terhadap Stand up komedi berbasis Humor Gus Dur sangat bagus seperti: “Ngakak, ceritane apik. Kalian lek omong medok, santai, ndak formal”, yang maksudnya “Ngakak, ceritanya bagus. Pembawaan kalian bagus dan gaya bahasanya medok, santai tidak begitu formal”. Luar Biasa! (sl/ ed: drs).

 

 

Menghitung Ketersediaan Air Sumur dengan Prinsip Euclidean Distance

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Keresahan Valencio Evanio Sahasika Kusumadyas prihatin dengan perubahan fisik berkurangnya kawasan terbuka di daerah sekitar tempat tinggalnya. Ia melihat kawasan terbuka sebagai fungsi ekologis area masukan/imbuhan air, keberadaan vegetasi tanaman, dan curah hujan. Dalam proposal penelitiannya, ia menuliskan bahwa ketersediaan air tanah dangkal (air sumur) sangat dibutuhkan masyarakat sebagai penyokong kehidupan sehari-hari. Ia meyakini nahwa keadaan tanah dan batuan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sumber daya air, baik dari sumber air permukaan maupun ketersediaan air sumur. Untuk itu, informasi mengenai keandalan ketersediaan air diperlukan, guna memperkirakan jumlah pemanfaatannya secara berkelanjutan.

Melalui wawancara daring pada Kamis (20/11), Evan mengatakan, “Ide saya berawal saat musim kemarau panjang air sumur di rumah saya tidak cepat kering sedangkan di tetangga kampung sumurnya kering, padahal kedalaman sumur hampir sama”. “Selain itu saya juga baca berita di media Yogya pada Juli 2019, terdapat adanya bencana meteorologi yang menyebabkan kekeringan di beberapa daerah di Yogyakarta,” imbuhnya. “Jadi saya tertarik meneliti tentang potensi ketersediaan air tanah dangkal,” tambahnya.

Ide inovatif Evan ini telah membuahkan hasil di Kompetisi ilmiah LIPI , Juara Kedua bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Kelautan, lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR). Judul penelitian, “Analisis Berkurangnya Kawasan Terbuka dan Keberadaan Vegetasi terhadap Perubahan Sebaran Potensi Ketersediaan Air Tanah Dangkal (Air Sumur) di Pinggiran Kota Yogyakarta ( Lokasi Studi: Wilayah Kecamatan Banguntapan, Kabupaten bantul). Penjurian berlangsung secara virtual pada 16-18 November 2020, kategori Perencanaan Wilayah Kota.

Penelitian siswa SMAN 3 Yogyakarta ini, dilatarbelakangi permasalahan ketersediaan air sumur di pinggiran kota semakin hilang dengan adanya pertumbuhan fisik bangunan perkotaan, sehingga berkurangnya kawasan terbuka dan keberadaan vegetasi. Tujuannya, memberikan informasi perubahan sebaran potensi ketersediaan air tanah dangkal. Studi awal yang menggunakan data secara time series dari 2006-2019 tersebut, guna mengetahui kawasan resapan atau imbuhan air.

Maka, menurut Evan, untuk mengetahui area resapan air digunakan penentuan jarak jangkauan menggunakan prinsip Euclidean Distance yang terdapat dalam aplikasi Sistem Informasi Geografi (ArcGIS), kata Evanio, putra tunggal dari pasangan orangtua Ayah, Agoeng K. Agustinus dan Ibu, Ekasari H. Christina yang selalu memberikan motivasi pendidikan yang tinggi kepada putra semata wayangnya.

Dalam penjelasannya, Evan menaparkan metode Euclidean Distance. “Metode ini membuktikan kawasan terbuka seperti ladang dan semak tumbuhan berkayu dengan tinggi maksimal lima meter berpotensi memiliki ketersediaan air tanah bebas paling tinggi. Apalagi jika potensi tersebut dibandingkan dengan kondisi kawasan tumbuhan herba dan vegetasi dengan ketinggian pohon lebih dari enam meter,” terangnya.

Euclidean Distance merupakan teknik penghitungan jarak antara dua objek dengan menggunakan teorema Phytagoras. Dalam penelitian ini, setiap tipe vegetasi yang serupa akan dihubungkan,” tutur Evan. Dengan demikian, ia berkesimpulan, akan dihasilkan fungsi jarak antar tipe vegetasi yang satu dengan tipe vegetasi yang lainnya dalam lokasi penelitian. “Jarak-jarak tersebut digunakan sebagai peubah penjelas yang selanjutnya akan digunakan sebagai penduga kapasitas infiltrasi dengan berdasarkan pada model scoring,” sambungnya.

Siswa yang telah mengukir prestasi di tingkat nasional melalui LKIR ini, menunjukkan teknik analisis yang dilakukannya menawarkan kebaharuan, yaitu: (1). Penggunaan aspek imbuhan air dgn 3 variabel yaitu jarak jangkau kawasan terbuka; (2). Curah hujan dan ke kemiringan lahan serta aspek resapan air dgn 6 variabel yaitu jarak jangkau vegetasi herba, semak dan pohon; (3). Kondisi tanah permukaan; (4) Kondisi batuan penyusun dan kedalaman muka air tanah dangkal/air sumur/air bebas.

Harapan yang ingin di capai Evan dari penelitiannya bagi masyarakat Desa Banguntapan adalah agar kelestarian dan pengendalian air tanah dangkal/ air sumur tetap terjaga sehingga riset ini pun dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengembangkan perkotaan.

Ia ingat pesan dari professor riset LIPI Nurul Tafiqu Rochman selaku salah satu juri yang menilainya kemarin. “Pertahankan konsep dalam penelitian selanjutnya. Ide penelitian ini sangat sistematis, masif dan keren,” pungkas Evan menirukan ucapan juri tersebut dengan ekspresi berbinar-binar. (mtr/ ed: drs)

 

 

 

 

Pemanfaatan Kecerdasan Visual dalam Aplikasi Open 3D Creation Software

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Melalui penelitian aplikasi visualisasi ingatan, Muhammad Atpur Rafif, siswa dari SMA N 2 Depok menjadi juara kedua di ajang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-52 bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT). LKIR merupakan wadah bagi ilmuwan muda untuk menampung dan mengembangkan ide-ide serta inovasi, bagian rangkaian acara Indonesia Scince Expo (ISE) 2020 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). “Kesan saya adalah sangat tidak terduga. Setelah melihat pemenang ketiga, yang membuat penelitian tentang material nano, saya merasa minder. Menurut saya penelitian dia jauh lebih bagus dibandingkan saya. Namun, ternyata saya bisa berada di pemenang kedua dari lomba LKIR 2020,” ungkap Atpur saat diwawancarai setelah acara Penganugerahaan Kompetisi Ilmiah dan Penutupan ISE 2020 yang dilaksanakan secara virtual pada Kamis (19/11).

Dengan karya berjudul ‘Aplikasi Visualisasi Ingatan dengan Open 3D Creation Software’, Atpur menyatakan, dirinya mendapatkan insipirasi penelitian dimulai pada saat SMP, saat membaca artikel mengenai wawancara dengan narasumber pemenang Lomba Mengingat. “Hal yang diingat adalah satu dek kartu yang berisi 52 kartu. Ketika ditanya bagaimana dia melakukannya, dia menjawab menggunakan visualisasi. Contohnya adalah membuat rumah, di dalamnya terdapat ruangan, dan terdapat objek pada setiap ruangannya. Objek inilah yang akan digunakan untuk kembali mengingat kartu yang diberikan tadi. Dari visualisasi inilah inspirasi saya dimulai,” paparnya.

Dirinya menjelaskan, penelitiannya merupakan sebuah cara atau langkah untuk mengetahui sesuatu. “Bisa mulai dari yang mudah, hingga rumit. Cara atau langkah ini mengikuti aturan tersendiri yang membuat penelitian itu menjadi valid, atau dapat dijadikan sumber yang dapat dipercaya dibandingkan sumber lainnya, seperti berita di internet, atau cuitan seseorang di media sosial,” jelas Atpur.

“Produk ini memanfaatkan kecerdasan visual-spatial manusia untuk membentuk hubungan antar ingatan,” tegas Atpur.” Konsepnya seperti Mindmap namun menggunakan software 3D atau 3 Dimensi. Produknya ini disebut dengan website 3D, karena hanya memerlukan browser dan internet untuk mengaksesnya. Produk ini berupa ruangan-ruangan yang berisi materi dan dapat dijelajahi secara 3D,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pembuatan produk ini menggunakan beberapa aplikasi dan proses yang panjang. Terdapat dua parameter untuk menguji produk ini. Pertama adalah efektifitas, dan yang kedua adalah aksesibilitas. “Oleh karena itu, terdapat dua tahap pengambilan data. Pengambilan data pertama menggunakan two group pretest posttest design, yaitu dengan membagi kelompok kontrol dan eksperimen,” jelasnya.

Kedepannya, dirinya berharap mendapatkan kemudahan terkait aksesibilitas peneliti terhadap alat yang dibutuhkan. “Penelitian saya sendiri memang bertujuan untuk memudahkan aksesibilitas ke masyarakat. Oleh karena itu, saya harap peneliti juga mendapat aksesibilitas yang mudah,” ulasnya.

Sebelumnya, Atpur sudah beberapa kali mengikuti lomba penelitian dimulai sejak duduk dibangku SMP. “Saat itu masih tingkat sekolah, dan sekolah yang menyelenggarakan. Kemudian ada GTYSB yang diselenggarakan online dari Hongkong, sebelumnya juga terdapat penyisihan melalui COIN. Kemudian yang terakhir adalah KOPSI, yang baru saja dilakukan tahun ini,” ungkapnya.

Saat ditanya tentang cita-cita, dirinya hanya ingin menjadi manusia yang bebas. “Bebas maksudnya tidak perlu memikirkan banyak hal, seperti saat ini harus memikirkan nilai sekolah, dan di masa depan harus memikirkan pemasukan. Saya ingin untuk tidak perlu memikirkan hal tersebut. Dengan kebebasan, saya bisa melakukan apapun yang saya mau, termasuk melakukan penelitian,” paparnya.

“Pesan saya untuk peneliti muda, teruslah berkarya. Kalian boleh melakukan kesalahan, namun kalian tidak boleh melakukan kecurangan. Kalaupun kalian melakukan kesalahan, akuilah kesalahan kalian. Karena, apabila kalian mengakui, kalian tidak akan merasa angkuh dan paling benar. Sebab, penelitian itu sendiri terus berkembang dan yang benar selalu diperbarui,” pungkasnya. (sf/ ed: drs)

Identifikasi Mikroplastik pada Ikan Tongkol

By | Berita BKHH | No Comments

Cibodas, Humas LIPI. Dua siswi asal SMAIT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, Amira Kumala Syifa dan Edenia Evalina Larisa berhasil meraih juara II LKIR ke-52 Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati. Dua siswi yang saat ini duduk di kelas XI MIPA 3 ini berhasil memukau dewan juri dengan presentasinya yang berjudul “Identifikasi Mikroplastik pada Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) di Pasar Manis Purwokerto”. Mereka berhasil menyingkirkan 9 finalis lainnya dalam memperebutkan juara II dalam kompetisi yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut.

Amira dan Edenia membuat identifikasi mikroplastik ini karena adanya fenomena penumpukan sampah plastik yang ada saat ini. Bahkan, menurut data yang mereka himpun, Indonesia sendiri menjadi produsen negara kedua terbesar penghasil sampah plastik ke laut setelah China. “Sampah plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk dapat terurai sempurna. Hal ini tentunya menjadi masalah serius terhadap lingkungan,” ujar keduanya kompak.

Dalam makalahnya, Amira dan Edenia menuliskan, plastik yang terjebak di lapisan tanah dan perairan banyak menimbulkan masalah. “Selain kemampuan resap tanah dan aliran air terganggu, sampah-sampah plastik ini juga mengancam bagi keselamatan berbagai jenis binatang yang ada di dalamnya. Karena pencemaran plastik baik di darat dan laut dapat terfragmentasi menjadi ukuran mikroskopis mikroplastik,” tulis mereka.

Saat memaparkan karya di hadapan juri, Amira menjelaskan bahwa mikroplastik sendiri merupakan potongan-potongan kecil dari plastik besar dengan ukuran 1-5 mm. “Mikroplastik termasuk jenis sampah laut yang dapat memberikan dampak buruk karena dapat terkonsumsi oleh biota laut,” ujarnya berdasarkan data NOAA 2016.

“Berdasarkan apa yang ditulis Wright et al, 2013, dampak dari mikroplastik yang tertelan oleh biota laut diantaranya dapat meruusak fungsi organ-organ seperti saluran pencernaan, mengurangi tingkat pertumbuhan, menghambat produksi enzim, menurunkan kadar hormone steroid, dan dapat menyebabkan paparan aditif plastik besar sifat toksikm” urai Amira.

Melengkapi penjelasan rekannya, Edenia menjelaskan bahwa mikroplastik juga memiliki efek bagi manusia. “Efeknya dapat meningkatkan respon inflamasi, toksisitas terkait partikel plastik, transfer kimiawi dari polutan kimia yang terabsorpsi, dan gangguan mikrobioma usus, menurut data dari Wright, 2017,” paparnya. “Bahkan ada penelitian yang menemukan adanya serat-serat plastik ditemukan pada 87% paru paru manusia,” tambahnya.

Inilah yang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi dua siswi tersebut, karena organisme laut yang banyak terkontaminasi oleh mikroplatik adalah ikan. “Nah, sedangkan manusia banyak mengonsumsi ikan dalam kehidupannya sehari-harinya. Ikan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia khususnya adalah ikan tongkol,” terang Edenia. “Jadi itulah alasan kami untuk mengidentifikasi kandungan mikroplastik yang ada di dalam ikan tongkol tersebut. Selain harganya murah ikan tongkol mudah didapatkan dan memiliki kandungan vitamin serta mineral yang cukup tinggi. Akan sangat disayangkan jika ikan tersebut mengandung mikroplastik,” ungkapnya dengan yakin.

Berbekal ilmu pengetahuan dan laboratorium kimia sekolah, Amira dan Edenia berhasil meneliti kandungan mikroplastik yang ada dalam ikan tongkol. Dalam laporan tertulisnya diketahui bahwa kontaminasi mikroplastik ditemukan pada 86.67% sampel ikan tongkol dengan rata-rata kelimpahan 2.13±1.41 partikel per-individu.

Mereka juga menemukan fakta bahwa kandungan mikroplastik dengan jenis fiber mendominasi yaitu sebesar 91 persen disusul fragmen/film sebesar 9 persen. “Walaupun hasilnya cukup menakutkan, masyarakat diimbau untuk tidak terlalu risau karena masih belum adanya penelitian lebih lanjut mengenai dampak bagi manusia,” tutur Amira. “Justru dengan penelitian itu masyarakat mendapat informasi lebih lanjut tentang kandungan mikroplastik pada ikan tongkol tersebut, sehingga mereka bisa berhati-hati dalam memilih ikan untuk dikonsumsi,” sambungnya.

Dua siswi berprestasi tersebut menyampaikan harapannya agar identifikasi mikroplastik ke depan dapat dilakukan pada jenis ikan lainnya. Selain itu mereka berharap dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak mikroplastik bagi kesehatan manusia. “Bagi masyarakat umum hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian untuk menjaga lingkungan pesisir dan laut, serta menambah pengetahuan dan informasi kepada masyarakat terkait pencemaran mikroplastik, sebaran dan dampaknya bagi kesehatan.” pungkas Amira.(dnp/ ed: drs)

 

Penelitian Sel Kanker Kolorektal Juara III di LKIR LIPI

By | Berita BKHH | No Comments

Kultur Primer Sel Kanker Kolorektal dari Mencit Model BALB/C Terinduksi Diet Tinggi Lemak dan 7,12-Dimethylbenz(a)nthracene (DMBA) Tahun ke – II : Analisis Flowcytometri karya Siti Andriyani dan Nisrinah Nur Syarafina berhasil menjadi juara tiga Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) bidang Ilmu Pengetahuan Hayati. LKIR ke-52 yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah usai pada Kamis (19/11) lalu.

Penelitian siswa dari MAN 2 Kota Malang. Ini dilatarbelakangi fenomena saat ini, mengenai kanker. “Kanker kolorektal (CRC) berada di urutan keempat dalam kanker paling mematikan di dunia dengan hampir 900.000 kematian setiap tahun,” ungkap mereka dalam proposal. Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang berasal dari keganasan di jaringan usus besar dan rektum.

Mereka mengamati, dalam rangka pencarian obat, mencit sebagai model kanker kolorektal semakin lama semakin penting kebutuhannya. Akan tetapi, dengan mahal dan terbatasnya cell line di dalam negeri menghambat laju penelitian kanker kolorektal.

Pada penelitian sebelumnya, Siti dan Nisrinah telah menemukan terobosan metode yang lebih murah dan cepat dalam menginduksi kanker dengan menggunakan DMBA dan diet tinggi lemak dan diketahui setelah 6 bulan, mencit tedeteksi melalui preparat HE terkena karsinoma, dan setelah satu tahun, diketahui terdapat benjolan kanker seukuran ujung kelingking pada kolon mencit.

“Metode ini jauh lebih murah dibandingkan metode metode yang ada selama ini, dan oleh karena itu, dimungkinkan untuk menyediakan cell line kanker kolorektal yang murah di dalam negeri,” jelas Siti di hadapan juri LKIR kemarin. “Kami mengalami kegagalan pada kultur primer sel akibat kontaminasi serta kesalahan teknik penggantian media, sehingga dilakukanlah penelitian lanjutan untuk menyempurnakan metode kultur,” tambahnya.

Pada kultur sel hari ke-12, kami menambah konsentrasi FBS menjadi 25% untuk mempercepat laju pertumbuhan sel. “Akan tetapi, kultur sel kembali gagal dikarenakan FBS yang kontam akibat penyimpanan yang kurang baik,” jelas Nisrinah via virtual zoom meeting.

Namun, penambahan FBS ini juga mengakibatkan semakin cepatnya sel mati dan menumpuk menjadi debris. Pada kultur ketiga, ditemukan kontaminasi pada cawan petri setelah pengamatan selama 3 hari. Peneliti menduga, hal ini disebabkan karena peralatan ataupun bahan yang kurang steril saat digunakan.

Meskipun begitu, kedua siswi berhijab ini tidak ingin membiarkan kegagalan dan menghentikan penelitian. Mereka berkomitmen melanjutkan penelitian, mengingat tujuan peneliti yang ingin memberikan sumbangsih pada perkembangan ilmu pengetahuan terutama terkait dengan model kanker kolorektal.

Pada penelitian lanjutan ini beberapa modifikasi yang sesuai dengan kegagalan sebelumnya akan ditambahkan untuk mengurangi resiko terulangnya kegagalan dalam kultur primer kanker kolorektal, antara lain adalah penambahan EDTA buffer, konsentrasi FBS 10% dan beberapa modifikasi lain. “Kami pun melakukan kultur ulang pada mencit yang setelah dibedah terdapat tonjolan putih yang diasumsikan kanker. Hasil flow cytometry sebagai bukti bahwa sel yang dikutur merupakan sel kanker akan didapat pada pertengahan November,” terang Nisrinah.

Selain itu, Siti melengkapi, hasil flow cytometry organ kolon, lambung, dan hati mencit didapatkan tanda-tanda. “Pada organ kolon dan lambung mencit perlakuan HFD+DMBA mengalami kanker dengan hasil sel T, NK, dan makrofag tertinggi menunjukkan bahwa sel imun mencit mendeteksi adanya abnormalitas pada organ tersebut,” ungkap Siti.

Siti dan Nisrinah berharap, dengan adanya penelitian ini yang mampu menyediakan cell line kanker kolorektal dengan murah di dalam negeri. “Kami berharap peneliti Indonesia mampu melaksanakan penelitian dengan lebih cepat dan murah, sehingga menurunkan tingkat mortalitas kanker kolorektal,” ujarnya.

Dewan juri LKIR di bidang ilmu pengetahuan hayati, I Made Sudiana menyampaikan kekagumannya pada penelitian ini. “Ada beberapa catatan yang menarik, yaitu Kultur Primer Sel Kanker Kolorektal dari Mencit Model BALB/C Terinduksi Diet Tinggi Lemak dan 7,12-Dimethylbenz(a)nthracene (DMBA) ini akan menjadi terobosan dalam penyediaan sel uji untuk penelitian penyakit kanker,” tuturnya. “Ini menarik karena harus dilakukan pada laboratorium yang berstandar tinggi,” pungkasnya. (drs)

 

Perubahan Mindset, Indikator Keberhasilan Riset ke Masyarakat

By | Berita BKHH | No Comments

Jaharta, Humas LIPI. Ilmu pengetahuan bisa jadi sangat penting di masyarakat, apabila hasil penelitian tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Bagaimana peran ini bisa menjembatani science bagi masyarakat? Karena dirasa hasil penelitian kurang berasa dampaknya dimasyarakat? Ada masalah apakah?

Mengapa hasil penelitian kurang greget dampaknya di masyarakat? Koordinator Fungsi Fasilitasi Pemasyarakatan Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yutainten menyatakan, perlu dipahami bahwa output riset yaitu masyarakat riset yang tergabung dengan akademisi sudah cukup banyak hasil peneliti Indonesia yang sudah merasakan kontribusinya.

Yuta yang juga sebagai pemerhati Iptek melanjutkan, secara umum atau masyarakat luas banyak yang masih bertanya demikian,, karena dirasakan tidak aplikatif. “Perlu digaris bawahi, berarti ada sesuatu yang salah yaitu dari segi komunikasi sains, bagaimana secara optimal hasil-hasil risetnya belum terkena dampaknya pada masyarakat,” tegasnya.

“Tahun 2020 ini Presiden Jokowi mengatakan bahwa memang hasil riset ini langsung ke hilir, tidak hanya cuma ke hulu dalam bentuk paper atau dokumen,” jelas Yuta, yang saat ini merangkap sebagai Plt. Sub Bagian Fasilitasi Pemasyarakatan Iptek, Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI pada acara Edukreator, sesi ‘Menjembatani Sains Ke Masyarakat Lewat Edutainment’, (20/11) kemarin.

Menurut Yuta bagaimana caranya harus ada publik engagement, salah satunya adalah sosial media. “Tetapi menapa masih menjadi masalah? karena lembaga penelitian tidak bisa berdiri sendiri disini.Jadi tetap butuh teman-teman yang punya concern, punya massa yang cukup luas, yang mungkin agak sedikit different dari yang selama ini dirangkul oleh lembaga-lembaga penelitian,” ungkap Yuta, yang juga seorang Pranata Huams di Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI.

Mengenai dampaknya pada masyarakat, penelitian terasa kurang greget, menurut Yuta ada banyak faktornya. “Antara riset peneliti dengan kebutuhan masyarakat kadang-kadang tidak match dengan kebutuhan industri,” terangnya di acara yang merupakan kolaborasi LIPI dengan KokBisa.

Dirinya mengungkapkan, masyarakat juga masih banyak yang tidak berusaha mencari informasi seperti apa saja hasil riset yang ada di Indonesia dan orang-orang yang ada di bidang riset pun terlalu fokus pada penelitiannya masing-masing. “Apalagi kalau sifatnya basic riset, kadang-kadang terasa tidak langsung dinikmati masyarakat, karena itu kan sifatnya knowledge. Disinilah yang perlu dipahami,” imbuh Yuta di kanal virtual YouTube.

Harapan pada keberhasilan upaya menjembatani riset dan edutainment ditunjukkan dengan indikator perubahan mindset. Yuta menerangkan, belajar tentang science adalah bukan sesuatu yang berat, tapi bagaimana jadi bagian dasar dari kehidupan kita dan konten penelitian pun dibuat lebih semenarik mungkin. (dn/ ed: drs)