Tanggap Darurat Bencana di Lingkungan LIPI, Suatu Kesadaran atau Kebutuhan

By | Berita BKHH | No Comments

 Jakarta, humas LIPI. Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor nonalam maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional. “Sangat disesalkan jika suatu ketika terjadi gempa di kantor, tetapi kita sebagai orang LIPI, malah ikutan bingung sendiri. Padahal LIPI itu dikenal sebagai salah satu lembaga yang pakar gempa,” demikian Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries dalam Sosialisasi SOP Tanggap Darurat Bencana di Lingkungan LIPI. Sosialisasi ini diikuti oleh perwakilan satuan kerja di lingkungan LIPI yang diselenggarakan secara daring pada tanggal 29 Juli 2020.

“Normal Baru yang sekarang sedang digerakkan, tidak terkecuali untuk gerakan tanggap darurat bencana. Jadi jika suatu ketika terjadi gempa di kantor kita,maka semua pegawai LIPI tidak terkecuali harus tahu apa yang harus dilakukan,”tegas Nur. “Maka dari itu SOP itu perlu agar semua orang tahu, minimal tindakan pertama yang harus diambil jika terjadi gempa,” lanjut Nur.

Lebih lanjut, Nur menegaskan bahwa SOP ini tidak perlu dibuat setiap tahun, tetapi yang penting awareness-nya setiap orang di LIPI harus tahu jika ada gempa atau kebakaran. “Setelah dilakukan sosialisasi SOP ini, seharusnya ada langkah konkrit yang perlu diambil,” jelas Nur.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto dalam paparannya tentang “Potensi Bencana di Indonesia” menyinggung bahwa sebaiknya juga harus menjadi perhatian untuk dapat memilih tempat tinggal sebaiknya memilih ditempat yang aman dan usahakan jangan pernah menempati ruang publik. “Untuk satuan kerja di lingkungan LIPI yang rawan bencana, direkomendasikan ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, seperti harus mengenali lingkungan dimana kita bekerja, selain itu juga kualitas bangunan perlu diperhatikan,” tegas Eko. “Pastikan setiap orang ataupun tempat berada harus ada benda yang dapat dipergunakan untuk berlindung dari gempa. Selain itu yang juga tidak kalah penting adalah memiliki tempat berlindung yang aman dari gempa,” lanjut Eko.

Terkait dengan kantor yang berada di lingkungan LIPI, Eko mengusulkan jika memungkinkan membuat kantor LIPI menjadi living museum yaitu membuat bangunan kantor LIPI aman dari bencana sehingga hal ini bisa juga menjadi contoh untuk masyarakat umum secara luas.

Langkah konkret yang harus segera dilakukan, terutama kegiatan yang perlu dilakukan terkait dengan tanggap darurat bencana di lingkungan LIPI. Semakin banyak pegawai LIPI yang sadar akan hal tersebut, maka ini akan menjadikan LIPI sebagai lingkungan yang aman saat bekerja.

(Rdn/humas/Ed:Yd)

Sapa Media #3, Mengenal Proses Pembuatan dan Uji Klinis Vaksin Covid-19

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Pada Selasa (28/7) lalu, Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menggelar kegiatan Sapa Media secara daring. Pada Sapa Media edisi ketiga ini, LIPI mengajak media-media nasional mengenal proses pembuatan vaksin dan uji klinis vaksin terhadap SARS-CoV2, virus penyebab Covid-19.

Vaksin merupakan zat atau senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Ditengah pandemi Covid-19 ini, keberadaan vaksin terhadap SARS-CoV2 sangat dinantikan.

Saat ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, bekerja sama dengan banyak pihak untuk dapat menemukan vaksin produksi Indonesia. “Hasil uji klinis yang dilakukan di Bandung tentunya sangat diharapkan dan dinantikan hasilnya, karena akan terlihat potensi bagaimana Indonesia dapat secara mandiri memproduksi vaksin,” ujar Deputi Bidang Ilmu Teknik LIPI, Agus Haryono.

Laboratorium Bio Safety Level 3 (BSL 3) LIPI saat ini menjadi fasilitas pendukung pengujian vaksin. Kepala BSL 3 LIPI, Ratih Asmana Ningrum, menjelaskan bahwa pada dasarnya vaksin berarti mengambil keseluruhan atau sebagian mikroba atau pathogen, yang kemudian dilemahkan agar tidak berbahaya saat dimasukkan ke dalam tubuh.

“Tujuan pemberian vaksin adalah membuat tubuh mengenali jenis mikroba atau pathogen, sehingga jika ada pathogen yang sama masuk ke dalam tubuh, tubuh kita sudah tahu cara menghadapinya (membentuk atibodi),” ujar Ratih.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Wien Kusharyoto, menjelaskan ada banyak jenis vaksin. Untuk vaksin SARS-CoV2, LIPI memilih mengembangkan vaksin rekombinan sub-unit, yang berarti vaksin diambil hanya dari bagian tubuh virus, yaitu protein spike (protein S).

Wien menjelaskan Protein Spike dan Receptor Binding Domain (RBD) saat ini menjadi kandidat utama sebagai antigen yang potensial. Tujuan utamanya adalah membentuk antigen untuk meningkatkan sistem imun.

Kendati demikian, Wien menjelaskan bahwa proses pengembangan vaksin hingga dapat diproduksi massal dan digunakan pada manusia dengan benar-benar aman membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ada beberapa tahapan uji klinis yang harus dilakukan untuk memastikan vaksin bekerja dengan efektif dan aman.

“Ada banyak aspek yang harus dibahas. Kita tidak hanya mengembangkan kandidat vaksin itu sendiri, namun ada pula pemilihan partner penelitian yang tepat, dan uji pra klinis. Jika memang semua bagus maka baru bisa lanjut ke uji klinis tahap satu,” ujar Wien.

Wien menjelaskan bahwa pada uji klinis tahap satu, vaksin siap diujikan ke manusia untuk melihat keamanan vaksin dan dosis yang tepat. “Pada tahap ini biasanya diujikan ke 45 relawan untuk kemananan dan pengujian dalam dosis berbeda agar diketahui dosis mana yg lebih tepat dan lebih aman. Pada tahap ini juga dievalusi repson kekebalan apakah antibodi sudah dapat diperoleh,” jelas Wien.

Tahap kedua uji klinis vaksin ditujukan untuk melihat efisiensi vaksin pada lebih banyak relawan dengan rentang usia yang lebih luas. Jika uji klinis ini berhasil, maka vaksin masih harus melalui uji klinis tahap tiga, yaitu evaluasi reaksi tubuh relawan terhadap vaksin.

“Tahap ketiga, kita melihat apakah respon kekebalan yang diharapkan sudah sesuai. Apakah dari vaksin tersebut sudah diperoleh antibodi yang menetralisir virus,” Wien menambahkan. Jika tahapan-tahapan tersebut berhasil, barulah vaksin dapat dilisensi agar selanjutnya dapat diproduksi dan dipasarkan secara massal dengan prosedur penggunaan yang aman.

Wien menjelaskan, vaksin yang dikembangkan LIPI saat ini merupakan vaksin pengembangan tingkat lanjut. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika vaksin yang sudah dikembangkan ternyata kurang efektif. (sr)

Kunjungan Kehumasan BIG: BKHH Ungkap Strategi Mengelola Komunikasi Internal

By | Berita BKHH | No Comments

Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menerima kunjungan Kepala Pusat Penelitian, Promosi, dan Kerja Sama beserta tim Humas Badan Informasi Geospasial (BIG) pada Selasa (21/7) lalu.

“Kunjungan ini merupakan upaya penguatan koordinasi dan dukungan kerja sama kehumasan kementerian dan lembaga,” tutur Suprajaka, Kepala Pusat Penelitian, Promosi, dan Kerja Sama BIG. “Kami juga melakukan benchmarking ke beberapa instansi lain seperti Kementerian Riset dan Teknologi, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika,” tambahnya.

Kepala BKHH LIPI Mila Kencana menyambut baik kunjungan tersebut dan memaparkan kegiatan kehumasan di LIPI. “Kami juga masih banyak belajar dari instansi lain, khususnya untuk pengelolaan PPID sebagai upaya untuk menjadi informatif,” ujarnya.

Mila mengungkapkan, timnya juga kerap mengalami kendala ketika ada produk layanan korporat yang harus dikumpulkan datanya untuk kepentingan publik. “Tidak semua satuan kerja cepat merespon kebutuhan data yang kami sampaikan melalui surat. Untuk itu, strateginya adalah mengundang satuan kerja untuk memaparkan data layanan publik yang mereka miliki dalam sebuah forum internal lembaga,” urainya.

Dalam pertemuan, Plt. Kepala Bagian Humas dan Informasi Publik LIPI Dyah Rachmawati Sugiyanto menyampaikan kegiatan kehumasan LIPI yang berskala nasional dan Internasional serta teknis pengelolaan media sosial di LIPI. Terkait dengan pembinaan jabatan fungsional Pranata Humas, Dyah menyarankan agar BIG membentuk tim penilai internal lembaga dan membuat panduan bukti fisik sesuai kekhasan BIG, yang disepakati bersama.

Hadir pula dalam pertemuan tersebut Ketua Forum Komunikasi Pranata Humas LIPI, Kepala Bidang Promosi dan Kerja Sama, serta beberapa Pejabat Fungsional BIG. (drs)

KONTRIBUSI PENELITI MUDA DI BIDANG KEDOKTERAN DAN FISIKA

By | Berita BKHH | No Comments

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menyelenggarakan kegiatan pembinaan ilmiah secara daring. Kali ini menghadirkan kegiatan Scibinar Talk to Scientists dengan Tema “Kontribusi Peneliti Muda di Bidang Kedokteran dan Fisika” pada Hari Senin Tanggal 27 Juli 2020. Narasumber kegiatan ini adalah dua peneliti muda pemenang LIPI Young Scientist Awards (LYSA). Pemenang 2017 dr. Gunadi, PhD, SpBA, Dosen Universitas Gajah Mada dan pemenang LYSA 2019 Dr. Ahmad Ridwan Tresna  Nugraha, M.Sc, peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI. Narasumber dengan dua bidang yang berbeda namun memiliki kompetensi mumpuni dan sumbangsih yang besar terhadap dunia penelitian yang ditekuni.

Dalam sambutan pembukaan, Plt. Kepala Bagian Humas Dyah Rachmawati Sugiyanto mengatakan bahwa LIPI melalui ajang LYSA memberikan apresiasi kepada peneliti muda berbakat dan berprestasi yang telah memiliki banyak publikasi internasional dan sitasi di Jurnal Internasional (SCOPUS dan Google Scholar Profile). Tidak hanya dari jumlah publikasi dan sitasi, LYSA melihat rekam jejak penelitian peneliti muda Indonesia yang secara konsisten bergerak dalam bidang penelitiannya. “Tahun ini, sebagai bagian dari pembinaan ilmiah, LIPI kembali membuka pendaftaran bagi para peneliti muda untuk meraih LYSA 2020. Bagi yang berminat, informasinya dapat diunduh di laman https://lysa.lipi.go.id/. Bagi SahabatLIPI yang memiliki kompetensi, kami undang untuk bergabung menjadi bagian dari peneliti muda yang berkontribusi dan memberikan inspirasi bagi generasi muda lainnya”, sambung Dyah Rachmawati Sugiyanto.

dr. Gunadi, PhD, SpBA, selain seorang dosen juga seorang dokter bedah anak ini lahir di Banyuwangi. Alumni SMAN 1 Giri Banyuwangi 1998 menyelesaikan pendidikan S1 Kedokterannya di Universitas Gajah Mada, meraih S3 di Kobe University, Japan dan pernah menimba illmu post-doctoral di RIKEN CDB, Japan serta Johns Hopkins University, USA. Meraih gelar spesialis bedah anak pada tahun 2016 dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.

Gunadi menyampaikan materi ‘Perkembangan Riset Medis Genetik Khususnya di Bidang Pediatric Surgery (Bedah Anak)”. Dijelaskan jumlah dokter bedah anak di Indonesia masih sangat kurang. Saat ini baru ada 147 dokter bedah anak di Indonesia, sedangkan jumlah anak di Indonesia berjumlah sekitar 100 juta dan sepertiga jumlah dokter bedah yang ada berada di Jabodetabek. Gunadi mendapatkan penghargaan atas hasil inovasinya mengidentifikasi penyebab awal penyakit Hirschsprung, lewat penanda genetik. Sebagai informasi, Hirschsprung merupakan penyakit tidak terbentuknya sistem saraf usus, sehingga berimbas susah buang air besar sejak lahir dan perut menjadi kembung. Pada kasus penyakit Hirschsprung pada umumnya identifikasi dilakukan dengan metode biopsi, atau tindakan diagnostik yang dilakukan dengan mengambil sampel jaringan atau sel sedangkan Gunadi mengidentifikasi penyakit Hirschsprung melalui darah lewat penanda genetik. “Mendevelop lingkungan, networking, dan kolaborasi”, tegas Gunadi tentang tips untuk menghadapai tantangan yang dihadapi.

Dr. Ahmad Ridwan Tresna  Nugraha, M.Sc., peneliti muda diaspora LIPI dengan peminatan bidang Fisika Teoritis dan Komputasi spesialisasi Fisika Material, Optika Kuantum dan Konversi Energi di Pusat Penelitian Fisika LIPI. Ahmad kembali ke tanah air setelah 11 tahun lamanya mengembara di Negeri Matahari Terbit untuk sekolah dan bekerja sebagai Assistant Professor, Department of Physics, Graduate School of Science, Tohoku University, Japan (October 2014 – September 2019). Selama mengenyam sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), ia berhasil menyabet gelar Mahasiswa Terbaik di Tahun Pertama kuliah S1-nya dan Mahasiswa Berprestasi Utama di Jurusan Fisika ITB serta Peringkat Dua Mahasiswa Berprestasi Utama di Fakultas MIPA ITB tahun 2005. Setelah lulus Sarjana tahun 2008, Ahmad melanjutkan S2 dan S3-nya di Tohoku University, Japan hingga tahun 2013 dengan beasiswa dari MEXT Scholarship for Master and Doctor Courses in Tohoku University, Japan dan Tohoku University Global COE Research Grant for Students.

Ahmad Ridwan Tresna  Nugraha menyampaikan materi “Potensi Belajar Fisika Teori dan Komputasi: Mau Jadi Apa?”. Dalam paparannya dijelaskan bahwa Indonesia masih sangat kekurangan peneliti, generasi muda diharapkan dapat mengisi kekosongan tersebut. Walau Indonesia masih kekurangan peneliti tetapi ada bidang-bidang tertentu Indonesia cukup kuat di dunia penelitian, yaitu di bidang fisika dan astronomi serta bidang kedokteran. Bidang fisika teori dan komputasi menawarkan peluang karier yang luas dan penghidupan yang “lumayan”. Fondasi yang diberikan oleh ilmu fisika sangat bermanfaat untuk bekal karier, dari peneliti hingga wirausahawan. Peneliti berlatar belakang fisika teori dan komputasi mudah menyeberang ke bidang ilmu lain. Aktivitas/produktivitas penelitian juga tidak banyak terganggu oleh bencana pandemi. “Lingkungan kerja yang mendukung dalam kerjasama dan kompetisi, serta publikasi ilmiah. Tantangan dalam publikasi ilmiah bisa dihadapi dengan banyak  baca buku ilmiah untuk dapat menulis yang lebih baik” jawab Ahmad Ridwan Tresna  Nugraha tentang tantangan yang dihadapai oleh peneliti.

SERU BELAJAR KEBIASAAN BARU

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Tahun 2020 ini Indonesia dan sebagian besar negara di dunia ini mengalami kejadian yang sangat luar biasa yaitu adanya pandemi Covid-19. Seluruh sektor kehidupan terdampak pandemi ini, tidak terkecuali bidang pendidikan. Namun, di tengah tantangan yang bangsa Indonesia hadapi sebagai dampak pandemi Covid-19, terdapat hikmah dan pembelajaran yang dapat diambil dari pandemi ini.

“Bagi dunia pendidikan, pandemi Covid-19 memunculkan beberapa pembelajaran positif, yaitu: (1) pemahaman orang tua tentang sulitnya menjadi guru karena kondisi pandemi menuntut keterlibatan langsung para orang tua dalam proses pembelajaran, (2) pemanfaatan teknologi yang luar biasa dalam proses pembelajaran, meningkatkan penyerapan teknologi dalam pendidkan, dan (3) mengubah cara kita menghargai kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan khususnya pada solidaritas dan kolaborasi,” demikian sambutan Prof. Ainun Na’im, Ph.D selaku Sekretaris Jendral Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada acara forum tematik Bakohumas yang telah diselenggarakan secara daring melalui zoom meeting oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tanggal 14 Juli 2020.

Lebih lanjut Ainun menyampaikan bahwa “Salah satu keputusan yang diambil oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada masa pandemi Covid-19 adalah menghentikan kegiatan belajar tatap muka langsung di seluruh sekolah sejak Maret lalu dan sebagai gantinya yaitu melalui kegiatan belajar mengajar secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ),” tegas Ainun. “Kebijakan lainnya adalah berupa fleksibilitas bagi kepala sekolah dalam memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah untuk mendukung pembelajaran selama masa pandemi Covid-19, mengenai perubahan pemakaian dana Bantuan Operasional Sekolah, yang sekarang ini dapat digunakan untuk pembelian pulsa, paket data, dan layanan pendidikan daring berbayar,” jelas Ainun.

“Pandemi Covid-19 memaksa kita untuk bereksperimen melakukan pembelajaran jarak jauh. Sistem pembelajaran ini memang tidak mudah, tetapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan, pada saat inilah insan pendidikan berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh,” ungkap Ainun.

“Dalam konteks humas, berbagai penyesuaian kebijakan yang telah ditetapkan dalam masa pandemi Covid-19 dan memasuki kebiasaan baru, termasuk “Seru Belajar Kebiasaan Baru”, memerlukan strategi komunikasi yang tepat,” lanjut Ainun.  Pada forum ini kita akan secara spesifik akan membahas “Seru Belajar Kebiasaan Baru’’.

Bagi humas pemerintahan, korelasi antara peran humas dengan kinerja Pemerintah sangat signifikan. Berbagai kebijakan serta berbagai program yang telah ditetapkan tentunya memerlukan komunikasi publik yang baik dan tepat. Dengan demikian, kebijakan dan program tersebut dapat tersampaikan dengan baik dan tepat pula oleh seluruh pemangku kepentingan, yang tentunya sangat beragam dari berbagai sisi.

Pertemuan Tematik Bakohumas ini, diikuti oleh humas dari berbagai pemerintahan, lembaga, kementerian. Ainun berharap bahwa,  melalui forum Bakohumas ini dapat menghasilkan satu kesamaan pemahaman dan tekad untuk secara bersama-sama dapat mencapai sasaran yang sama, yaitu tersosialisasinya “Seru Belajar Kebiasaan Baru” dalam dunia pendidikan. (Rdn/humas/Ed:Yd)

Generasi Sains Indonesia: Produktif!

By | Berita BKHH | No Comments

Memperingati Hari Anak Indonesia Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menegaskan peranannya sebagai lembaga pemerintah yang peduli dalam mencerdaskan bangsa. Melalui webinar Talk to Scientists yang mengusung tema “Generasi Sains Indonesia: Produktif”, LIPI mengajak publik untuk berdialog dengan ketiga narasumber yang berkecimpung dan berperan aktif dalam pengembangan minta riset bagi anak dan remaja terutama bagaimana mereka tetap produktif di kala pandemik COVID-19 melanda.

Diawali dengan memperkenalkan kembali program program pembinaan ilmiah bagi anak dan remaja Indonesia agar lebih mencintai riset dengan program pelatihan maupun kompetisi ilmiah,  webinar ini mengupas pengalaman unik alumni Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) 2019, ajang pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI) untuk generasi muda, yang berasal dari wilayah Indonesia. “Selain belajar ilmu penelitian, kita juga belajar bagaimana bersosialisasi dan berbaur dengan orang baru. Makin banyak teman, dan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru,” ujar Chris Maria Angelicue C. Sebagai perwakilan remaja dari belahan timur Indonesia, Maria juga menegaskan bahwa semangat riset remaja NTT tidak kalah dengan remaja Indonesia lainnya dan pengembangan diri menjadi hak yang sama bagi setiap anak.

Kepedulian terhadap perlindungan dan pemenuhan kebutuhan dasar anak Indonesia, seperti pendidikan dan kesehatan, menjadi momentum penting dalam peringatan HAN. Sadar akan dampak pandemi Covid-19 yang juga berpengaruh pada terbatasnya pemenuhan hak anak, LIPI memberikan wawasan baru kepada anak Indonesia bahwa pandemi ini bukan menjadi penghalang untuk tetap produktif dan berprestasi.

Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI yang juga telah berpengalaman sebagai Instruktur PIRN dan Mentor LKIR, Deshinta Vibriyanti, menjelaskan bahwa paling tidak ada tiga hak dasar anak Indonesia yang perlu dilindungi dan dipenuhi, yaitu pendidikan, kesehatan, dan hak untuk bermain. “Anak-anak Indonesia harus terampil dalam intelektual, sosial, dan seni,” ujarnya.

Namun, masa pandemi ini kemudian memberikan banyak keterbatasan untuk mereka memperoleh hak dasarnya tersebut, salah satunya dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan anak Indonesia untuk bersekolah secara daring. Keterbatasan ini seolah menghentikan langkah anak-anak untuk tetap berkreasi dan bersosialisasi. Padahal, menurut Deshinta, 30% dari penduduk Indonesia adalah anak-anak yang dimana dapat menjadi generasi yang produktif dan berkualitas di masa depan jika dapat dibimbing sejak dini.

Lalu, bagaimana untuk tetap produktif di masa pandemi ini? Hal sederhana seperti bangun pagi dan mandi adalah tips dari Deshinta untuk anak-anak Indonesia agar tetap produktif. “Semua perilaku adalah pengkondisian, Bagaimana kita mengkondisikan diri kita untuk belajar, akan berpengaruh pada hasil belajar kita,” ungkapnya.

Selain itu, melakukan penelitian di masa pandemi ini juga tetap bisa dilakukan. Sudah banyak kanal daring yang dapat digunakan untuk teknik pengumpulan data, seperti Google Form. Jika mengharuskan pengumpulan data melalui teknik wawancara juga tetap dapat dilakukan melalui saluran telepon maupun pertemuan virtual.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh narasumber termuda, Muhammad Rasyid Albanna, yang merupakan juara harapan 1 NYIA 2019. Masa pandemi ini tidak menghentikan Rasyid untuk tetap meningkatkan potensi dirinya. Belajar robotik dapat ia lakukan dengan menonton video dan bergabung pada grup robotik di media sosial. Selain itu, Rasyid juga tetap produktif dengan menjadi salah satu finalis International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2020, dengan invensinya berjudul “Say No Smoking Detector”.

Siswa yang baru saja masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pekalongan ini, bercerita bahwa ide penelitiannya kerap kali bersumber dari masalah pada lingkungan sekitarnya, sehingga alat yang ia buat diharapkan dapat menyelesaikan masalah tersebut. “Karena menjadi inventor dapat memecahkan masalah dan membantu banyak orang,” tuturnya.

Sependapat dengan hal tersebut, Deshinta mengatakan bahwa menggali ide penelitian dapat dilihat dari kondisi sekitar dan juga memperkaya ide dengan membaca tulisan ilmiah. “Dengan melihat permasalahan yang ada di masyarakat, kita teliti, kita cari solusinya, dan kita kombinasikan dengan penelitian-penelitian sebelumnya” tambahnya.

Namun, dengan situasi dan kondisi seperti ini, orang tua perlu menyadari bahwa anak-anak tetap hanyalah anak-anak yang butuh bermain dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Mendukung anak untuk tetap produktif pada masa pandemi ini tidak kemudian memposisikan anak pada kondisi yang terpaksa. Anak harus melakukan sesuatu dengan kemauan dan passion masing-masing. Selanjutnya, peran orang tua yang akan menjadi pendamping dan memberikan jalur serta memfasilitasi anak-anak tersebut. (sd/ed:yt)

Selamat Hari Anak Nasional! Anak Terlindungi, Indonesia Maju

#AnakIndonesiaGembiraDiRumah

Serunya Menggali Potensi Penelitian Teknologi Informasi

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu hal yang dimanfaatkan manusia setiap harinya khususnya pada era 4.0 ini, dimana banyak teknologi informasi dan kecerdasan buatan yang dapat digunakan dengan mudah, seperti aplikasi daring pada ponsel pintar. Berkembangnya sektor ini kemudian menjadi salah satu bidang yang menarik bagi kaum milenial, khususnya para remaja. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui kanal Instagram @pirnlipi pada Kamis (16/7) dalam program NGAPEL (Ngobrol Bareng Peneliti) menghadirkan Dr. Hilman F. Pardede, Peneliti di Pusat Penelitian Informatika LIPI, untuk menggali tentang potensi penelitian teknologi informasi yang dapat dilakukan saat ini.

Berkembangnya teknologi tidak hanya berpengaruh pada bidang informatika itu sendiri saja, namun juga berkembangnya berbagai bidang, seperti edukasi, kesehatan, bisnis, jasa, hingga kehidupan bersosial. Banyak teknologi yang sebelumnya tidak terpikirkan telah berhasil dibuat dan dikembangkan pada masa sekarang ini, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Hal ini yang disebut Hilman sebagai peluang, dimana hampir semua sektor dapat diterapkan teknologi informatika di dalamnya. “Peluang dimana kita bisa berperan ketika orang lain belum kepikiran,” ungkapnya.

Seiring dengan perkembangan tersebut, perubahan teknologi dari masa ke masa merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Namun, Hilman yang merupakan pakar informatika dan komunikasi serta pengolahan sinyal multimedia ini menganggap banyaknya perubahan justru akan membawa banyak kemudahan di masa depannya. “Namanya teknologi perubahan itu wajar. Accept and embrace. Kita harus ikut menjadi perubahan itu,” ujarnya.

Dengan lahirnya berbagai macam teknologi baru, orang-orang yang bekerja pada bidang teknologi informatika dituntut untuk dapat cepat beradaptasi pada perubahan. Hilman mengungkapkan kemampuan adaptasi akan lebih cepat jika kita sudah mendalami dasar dari suatu teknologi, karena teknologi baru hanyalah varian yang tidak banyak perubahan signifikan dari dasarnya. “Jika ingin cepat beradaptasi, pegang kuat basic informatika maka akan lebih mudah mempelajari hal-hal baru,” tuturnya.

Hilman juga mengatakan bahwa masih banyak potensi yang dapat dikembangkan dalam dunia teknologi informatika, seperti tren saat ini yaitu Machine learning, Artificial intelligence, dan Big data. Terlebih pengembangan Teknologi informasi di Indonesia yang merupakan potensi pasar yang besar dan sangat unik. Tidak ketinggalan,  pengembangan Cyber security juga akan menjadi peluang yang sangat besar di masa yang akan datang, karena kebutuhan setiap orang untuk merasa aman dalam menggunakan internet akan meningkat, dan hal itu membuat setiap perusahaan meningkatkan keamanannya melalui cyber security untuk mendapatkan kepercayaan para pengguna.

Generasi muda yang tertarik pada bidang teknologi informatika tidak perlu khawatir akan kebutuhan data terkait informatika, karena sudah banyak data yang tersedia secara publik dan dapat diakses gratis. “Data mining atau machine learning dapat diakses di kaggle.com contohnya, salah satu yang biasa dicari untuk sumber data tertentu,” jelas Hilman. Selain itu, Pusat Penelitian Informatika LIPI juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk kerja praktek maupun mengolah data untuk tesis atau skripsinya disana. (sd /edt yt)

Sapa Media #2: Kegiatan Konservasi dan Penelitian Kebun Raya selama Masa Pandemi

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Sebagai upaya mengurangi penyebaran Covid-19, Kebun Raya di bawah pengelolaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ditutup sementara untuk publik mulai 19 Maret 2020 lalu. Pekan lalu, Selasa (7/7), Kebun Raya Bogor, dan Kebun Raya Cibodas kembali dibuka dengan sejumlah protokol kunjungan dan evaluasi berkelanjutan.

Saat ini pembukaan Kebun Raya masuk dalam fase 1. Seluruh transaksi, baik tiket maupun penjualan makanan, dilakukan secara digital untuk mengurangi kontak fisik. Jumlah pengunjung juga dibatasi sebagai tindakan dari kontrol keramaian dan jarak antar pengunjung dapat tetap terjaga.

“Kita membuka dalam beberapa fase. Kalau fase 0 sudah baik, makan kami tingkatkan, dan seterusnya,” ujar Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, pada pertemuan Sapa Media #2: Riset dan Konservasi Keanekaragaman Hayati di Masa Kenormalan Baru, melalui Zoom meeting, pada Kamis (16/7).

Namun, selama masa penutupan sementara, kegiatan konservasi dan penelitian tetap berjalan, begitu pula dengan pemeliharaan dan perawatan tanaman. “Penutupan selama empat bulan bukan berarti kegiatan penelitian berhenti. Penutupan sementara untuk publik tapi konservasi dan penelitian tetap berjalan. Walaupun sebagian besar dikerjakan dari rumah, tapi ada sebagian kecil yang tetap melakukan pemeliharaan dan perawatan,” ujar Kepala Pusat Konservasi dan Kebun Raya LIPI, Hendrian.

Selama 2020, Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya menghasilkan beberapa penelitian. Terdapat tujuh jenis baru tanaman, yaitu Hoya sulawesiana, Hoya surisana, Bulbophyllum acehense Metusala, Dendrobium rubrostriatum Metusala, Begonia enoplocampa, Begonia sidolensis, dan Begonia tjiasmantoi.

Ada juga penemuan tiga varietas baru begonia, yaitu Begonia crested, Begonia lugrayasa, dan Begonia bimasena. Selama masa pandemi, Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya juga menetapkan satu status konservasi baru, yaitu untuk Cibotium arachnoideum yang kini berstatus endangered atau terancam.

Kegiatan Sapa Media diadakan untuk menyampaikan perkembangan terkini mengenai aktivitas LIPI kepada media, khususnya di era new normal. Pada kegiatan Sapa Media, Humas LIPI mengundang media baik cetak, online, maupun siar, untuk mendapatkan sudut pandang media dalam memetakan kebutuhan hasil riset dan aktivitas penelitian yang diperlukan oleh masyarakat. (sr)

Temu Peneliti: Kolaborasi BKHH dan Peneliti dalam Diseminasi Informasi

By | Berita BKHH | No Comments

Sebagai lembaga penelitian terbesar di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus berupaya melakukan diseminasi ilmu pengetahuan dan inovasi penelitian dari berbagai bidang keilmuan kepada masyarakat luas. Biro Kerjasama, Hukum dan Humas (BKHH) LIPI dalam hal ini berperan penting menjadi jembatan peneliti dan masyarakat. BKHH dituntut untuk dapat memproduksi dan mengolah data penelitian menjadi konten menarik bagi masyarakat. “Kita adalah wartawan LIPI, ada platform diseminasi ilmu pengetahuan melalui majalah Sainesia, artikel, berita, dan opini. Kita harus terus berinovasi untuk menciptakan konten yang kreatif dengan data dan informasi yang akuntabel,” ungkap Kepala BKHH, Mila Kencana pada acara Temu Peneliti, Selasa (14/7).

Salah satu tantangan dalam pembuatan konten publikasi dan diseminasi ilmu pengetahuan adalah sulitnya menggali informasi data penelitian yang lebih rinci, lengkap dan utuh. BKHH menggagas Temu Peneliti sebagai upaya untuk memonitor, mengetahui, dan mempelajari proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti LIPI. “Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi yang komprehensif terkait riset yang sedang dilakukan oleh para narasumber agar dapat dikemas lebih optimal baik dari sisi konten maupun promosi kepada publik,” terang Mila.

Dalam Temu Peneliti kali pertama ini, BKHH menghadirkan Peneliti Biomaterial LIPI, Lisman Suryanegara. Lisman mengungkapkan Temu Peneliti dapat menjadi sarana untuk mendapatkan informasi penelitian. “Tujuan Temu Peneliti yaitu mendengarkan dan menyerap data dan informasi dari peneliti terkait penelitian yang komprehensif,” ujar Lisman.

Lisman kemudian menjabarkan bahwa saat ini Pusat Penelitian Biomaterial LIPI memiliki tiga paten, yaitu paten terkait perekat kayu lapis dan proses pembuatan kayu lapis, paten pembuatan material komposit dari campuran poliasam laktat (PLA) dan paten bahan bakar padat berbasis limbah biomassa disebut biopelet. “Diseminasi penggunaan biopelet sebagai energi alternative pengganti gas pada industri makanan makanan rumaha berada di bawah binaan kelompok usaha Manunggal. Sementara untuk pengembangan teknologi pemurnian garam telah menjadi salah satu prioritas nasional dan merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan impor garam,” jelas Lisman.

Senada dengan Lisman, Peneliti Kimia LIPI, Tjandrawati Mozef mengungkapkan peran dan andil BKHH dibutuhkan dalam dokumentasi dan pembuatan konten publikasi untuk khalayak. “BKHH bisa membantu untuk pembuatan video dan peliputan serta dokumentasi,” kata Tjandrawati.Tjandrawati kemudian berbagi informasi penelitian yang sedang berjalan di Pusat Penelitian Kimia LIPI yaitu pengembangan suplemen kesehatan dari umbi yacon (Smallanthus Sonchifolius) sebagai sumber difructose anhydride III (DFA 3) dan Fructooligosaccharides (Fos).

Menurut Tjandrawati , umbi yacon memiliki manfaat untuk peningkatan penyerapan kalsium dan membantu system pencernaan terutama anak-anak. “Penelitian ini dilatar belakangi adanya kasus kerapuhan tulang yang sangat tinggi di Indonesia, terutama wanita atau pria diatas 50 tahun,” ungkap Tjandrawati. (shf/ed:iz)

 

Persiapan IEYI: Delegasi Indonesia Pelajari Teknik “Story Telling” dari Peneliti LIPI

By | Berita BKHH | No Comments

Humas LIPI. Setelah menyelenggarakan Workshop Pembekalan Substansi, Presentation Skill, dan Videografi, selama dua hari pada tanggal 23-24 Juni 2020, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menyelenggarakan Workshop Science Presentation untuk mematangkan kesiapan Delegasi Indonesia di ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) tahun 2020 pada Kamis (2/7).

Sebanyak 10 peserta dari 6 projek invensi terpilih mengikuti workshop. Bersama dengan Intan Suci Nurhati, Ph.D, Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI sebagai narasumber dalam workshop ini, peserta diberikan materi mengenai teknik presentasi yang baik di ajang kompetisi internasional. Peserta juga diminta untuk praktek langsung mempresentasikan invensi mereka dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Plt. Kepala Bagian Humas LIPI Dyah Rachmawati Sugiyanto mengatakan, jika kita ingin orang percaya pada hasil penelitian kita, maka mulai dari kita sendiri juga harus yakin bahwa penelitian kita ini penting dan berguna. “Untuk itu, perlu dikemas dan dikomunikasikan dengan baik kepada audiens dan dewan juri IEYI nanti,” tuturnya saat membuka kegiatan. “Alur cerita itu penting agar pesan yang ingin kita sampaikan runut dan mudah dipahami orang lain,” tambahnya.

Pendekatan Story Telling  menjadi salah satu bahasan penting dan menarik dalam pelatihan ini  “Pengenalan perlu dibuat sederhana dengan menjelaskan manfaat yang diberikan dan siapa yang akan mendapat manfaat tersebut. Pakai pendekatan personal, ceritakan pengalaman kalian secara pribadi,” tutur Intan. “Kemudian dari sisi novelty, apakah ada kekinian alat, bila ada yang serupa, perlu dijabarkan kemajuan apa yang ditawarkan. Lalu terkait potensi kedepan dalam pemanfaatan secara masal perlu mengangkat testimoni calon pengguna dan penerima manfaat juga penting,” tambahnya.

Intan mengungkapkan, melalui pendekatan bercerita diharapkan juri merasa terkesan dan tertarik dengan tujuan invensi kalian. “Pakailah persuasif emosional selain memang kecanggihan dan manfaat invensi yang ada,” ujarnya. (shab/ ed: drs)

Paradigma Baru Riset Indonesia

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Paradigma riset di Indonesia harus berubah menuju arah kolaborasi antara peneliti dengan swasta. Dalam mewujudkan kolaborasi, dimulai dari SDM IPTEK yang ditata melalui skema manajemen talenta yang sesuai standar global. Selain itu, peneliti harus mengubah pemikirannya untuk membuka diri menjadi memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Selama ini peneliti masih berurusan dengan hal-hal hilir, hal ini tentu harus diubah. Peneliti cukup berhenti di hak paten, fokus pada kekayaan intelektual Untuk itu kolaborasi dengan swasta menjadi penting agar hasil riset bisa digunakan di masyarakat”, ungkap Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko pada Minggu (28/6) di Webinar IABIE Talks 2020 “Tribute To Habibie: Masa Depan Riset dan Inovasi Indonesia”.

Contoh yang baru saja terjadi pada iklim riset Indonesia ialah hasil kolaborasi antara peneliti dengan swasta maupun badan riset lainnya dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19. “LIPI melalui lab Bio Safety Level-3 dalam waktu dekat ini akan bekerja sama dengan Lembaga Eijkman dalam pengujian vaksin. Selain itu, saat ini masih berlangsung uji klinis Immunomudulator dari jambu biji merah, hasil penelitian LIPI yang berkolaborasi dengan swasta yang ditujukan bagi pasien ringan dan sedang di Wisma Atlet. Di masa depan saya berharap hal-hal seperti ini semakin meningkat karena banyak hal yang bisa dijadikan kolaborasi,” pungkas Laksana Tri Handoko. (hmw)

ENAM KARYA INVENTOR MUDA BINAAN LIPI MELAJU KE AJANG INTERNASIONAL

By | Berita BKHH | No Comments

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan mengikutsertakan enam karya para inventor muda, pemenang National Young Inventors Award (NYIA) 2019 ke ajang kompetisi International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2020. Sebagai upaya persiapan ke ajang internasional tersebut, mereka mendapatkan pembekalan dari LIPI melalui Workshop Pembekalan Substansi, Presentation Skill, dan Videografi, selama dua hari (23-24/6).

“IEYI 2020 yang sedianya akan diselenggarakan di Kazan, Rusia karena adanya pandemi global covid-19 dan atas persetujuan anggota IEYI, akan diselenggarakan secara virtual oleh Taiwan Creativity Development Association,” jelas Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Mila Kencana. Rangkaian kegiatan dari bulan Juni – Oktober 2020, puncaknya penganugerahan pemenang medali emas akan dilaksanakan pada tanggal 15-18 Oktober 2020 di 8th Macao’s International Innovation and Invention Expo. “LIPI akan mengirimkan 6 karya pemenang NYIA dari pemenang pertama sampai harapan ketiga dan 1 orang juri, Anto Tri Sugiharto Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI dalam IEYI tersebut,” tuturnya.

Mila juga mengatakan, karena adanya wabah Covid-19 pelaksanaan IEYI di Rusia terpaksa ditunda. IEYI tetap diadakan meskipun secara virtual. “Keuntungan mengikuti ajang IEYI antara lain pembinaan ilmiah terhadap generasi muda tidak berhenti di masa pandemi Covid-19 ini dan menjadi portofolio yang positif bagi LIPI dan Indonesia”, sambung Mila.

Dalam workshop, calon peserta dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan secara virtual selama dua hari. Peserta akan mendapatkan materi: Penguatan Invensi oleh Anto Tri Sugiarto, Presentasi Invensi dengan Bahasa Inggris oleh Yutainten dan Yudie Aprianto, serta Pembuatan Video oleh Dyah Rachmawati dan Gustaf Wijaya. Selama workshop invensi peserta direview, dan akan membuat video untuk diikutkan dalam IEYI 2020.

Sebagai informasi, enam karya yang diikutsertakan yaitu: Nanoextractor, Alat Rumah Tangga Pengekstrak Herbal Kualitas Tinggi dengan Proses Suhu Rendah yang Dicapai Melalui Teknik Getar Ultrasonik pada Tekanan Vakum Menggunakan Kendali Mikrokontroler Berbasis Aplikasi Android, karya Faustina Amelia dan Imanuellenfa Tantiara Glory dari SMA Regina Pacis Bogor; “AUTICS”: Autocharging Thermoelectric Solar Sebagai Inovasi Charger Handphone Dual Sumber dengan Memanfaatkan Panas Buang Kendaraan Bermotor, karya Jasmine Shafa Kurnia dan Adlina Khairina Hisaa dari Zamzam Syifa Boarding School; Garpu Volta: Garpu Ajaib Pembangkit Listrik, karya Marcelia Sekar Ageng Perdana dan Shabrina Azadirach Putri dari SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto; Alat Perawat, Penyiram, Pemupuk dan Penjaga Kebutuhan Cabai Secara Otomatis, yang Membuat Cabai Dapat Hidup Selama 3 Tahun dan Tahan Terhadap Segala Cuaca dan Hama dengan Menggunakan Barang Bekas dan Limbah Masyarakat, karya Sandi Pamungkas dari SMA Negeri 2 Bunguran Timur; dan SWAP (Smart Waste Plastic System), karya Dyfany Aurariel Syahda dan Ninis Dyah Yulianingsih dari SMA Negeri 1 Kota Kediri; serta Say No Smoking Detector, karya Muhammad Rasyid Albanna dari SD Muhammadiyah 1 Kandang Panjang.

Peserta workshop dari SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, Marcelia Sekar Ageng Perdana dan Shabrina Azadirach Putri, mengungkapkan bahwa timnya bersyukur mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi penemu remaja IEYI. Dalam workshop ini karyanya, “Garpu Volta” Garpu tanah Ajaib Pembangkit listrik, mendapatkan review dan bimbingan untuk penyempurnaan karya. Selain itu juga mendapatkan materi ketrampilan presentasi dalam Bahasa Inggris dan teknik pembuatan video. “Walau tahun ini IEYI dilaksanakan secara virtual, hal ini tidak mengurangi semangat kami untuk memberikan hasil terbaik bagi bangsa dan negara”, pungkas mereka. (tbi/ed:drs)

 

 

 

 

 

Eksplorasi Penelitian Hewan Bisa dimulai dari Hobi

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Program virtual NGAPEL (Ngobrol Bareng Peneliti), untuk keempat kalinya diadakan secara langsung melalui kanal Instagram @pirnlipi pada Selasa (16/6). Ahli zoologi Indonesia yang berfokus pada bidang herpetology, Dr. Amir Hamidy, M.Sc, pada kesempatan ini membahas mengenai keseruan dari kegiatan eksplorasi penelitian hewan.

Hamidy menjelaskan bahwa dalam eksplorasi penelitian hewan, semua orang bisa menemukan spesimen fauna baru, namun untuk mendeskripsikan dan publikasi perlu kepakaran khusus dibidang tersebut. “Menemukan jenis baru itu merupakan suatu proses panjang dimana seseorang mengkoleksi, mendokumentasikan, membuat spesimen ilmiah, mengkaji dan menganalisis hingga ditulis dalam jurnal ilmiah yang terpublish secara internasional”, terang Hamidy.

Jika dicermati, penemuan spesimen fauna baru memiliki nama-nama yang unik. Menurut Hamidy, hal tersebut merupakan hak prerogatif pendiskripsi spesimen baru. “Nama menjadi hak perogratif yang mendeskripsikan dan harus disampaikan pula etimologinya atau artinya,” jelas Hamidy. Namun, Hamidy mengingatkan bahwa penamaan spesimen tidak sembarangan. “Harus sesuai dengan tata cara penamaan fauna yaitu sesuai dengan International code of biological nomenclature yang disepakaiti secara internasional”, terangnya.

Diakhir sesi NGAPEL, Hamidy berpesan pada generasi muda Indonesia bahwa ketika kita beraktivitas di alam seperti naik gunung atau jogging, jangan hanya keluar saja. “Coba untuk mengamati jenis-jenis hewan atau tumbuhan disekitar dan dicatat apa saja yang ditemukan, lalu didokumentasi dan di folderkan untuk belajar meneliti”, tutupnya.

Program virtual ini merupakan program yang bertujuan untuk menambah wawasan bagi generasi sains Indonesia. Program ini secara khusus mengundang para peneliti dari LIPI untuk membahasa isu-isu menarik dari dunia sains secara langsung. Salah satu tujuan dari program ini adalah untuk mengembangkan minat para remaja Indonesia terhadap sains itu sendiri. (vgs)

Keseruan Penelitian di Laboratorium sebagai Upaya Penanggulangan Covid-19

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Dalam upaya mendukung percepatan penanganan pandemi COVID-19, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) turut aktif membantu penanggulangan penyakit Covid-19 melalui riset dan inovasinya dalam pengujian spesimen virus corona, pemetaan uji coba obat herbal untuk penyembuhan Covid-19, hingga pelatihan relawan untuk ditempatkan di Laboratorium Biosafety Level-3 (BSL-3). Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI yang juga merupakan Kepala Fasilitas BSL-3 LIPI, Dr. Ratih Asmana Ningrum, membahas keseruan dan kegiatan yang dilakukan peneliti di laboratorium BSL-3 melalui program virtual NGAPEL (Ngobrol Bareng Peneliti) yang ditayangkan secara langsung melalui kanal Instagram @pirnlipi pada Kamis (28/5).

Ratih menjelaskan bahwa setiap mikroba penyebab penyakit memiliki sifat masing-masing dan tingkat bahaya yang berbeda. “Ada suatu sistem penggolongan bahaya dari level 1-4. Semakin tinggi tingkatannya maka akan semakin bahaya.” ujarnya. Laboratorium BSL-3 adalah Laboratorium yang didesain secara khusus untuk menangani, menguji, dan melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan mikroba yang tingkat bahayanya ada pada level 3, seperti virus SARS-CoV2.

Laboratorium BSL-3 berperan penting dalam upaya penanganan Covid-19. “Jika mikroba pada level tertentu diuji di Laboratorium yang tidak semestinya, maka sampel mikroba tersebut akan berpotensi untuk menginfeksi orang sekitar,” ungkap Ratih. Fasilitas Laboratorium BSL-3 LIPI memiliki infrastruktur yang lengkap dan telah bersertifikasi sesuai standar WHO sejak tahun 2018 oleh World BioHaz Tec Pte Ltd. yang diperbarui setiap tahun.

Selain melakukan deteksi dan riset di bidang Covid-19, LIPI juga telah menyelenggarakan pelatihan untuk tenaga pendukung yang akan bertugas pada garda depan dalam penanganan virus ini. “Pelatihannya meliputi tata cara penggunaan alat pelindung diri dengan benar hingga cara melakukan deteksi” jelas Ratih. Terdapat 848 orang dari seluruh Indonesia yang telah mendaftar pada gelombang pertama pelatihan ini.

Dirinya menyebutkan bahwa orang-orang yang ingin bekerja di Laboratorium BSL-3 harus sehat secara fisik, disiplin, dan dapat mengikuti prosedur yang telah disusun. “Hal ini penting untuk keselamatan bersama dikarenakan kita bekerja di dalam tim,” tambahnya.

Ratih berpesan pada generasi muda Indonesia bahwa untuk menjadi peneliti tidak terbatas pada suatu jurusan tertentu. Selain itu, dirinya juga memberikan motivasi bagi para tenaga pendukung yang bekerja di Laboratorium untuk tetap semangat dalam melakukan tugasnya. “Kita berbuat kebaikan untuk sesama dengan sisi kemanusiaan. Kita juga membantu orang yang saat ini sedang membutuhkan,” tutupnya. (sd)

Mengukur Kualitas Kebijakan di Lembaga Riset

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Peraturan Menteri PAN No 25 tahun 2020 tentang Road Map Reformasi Birokrasi tahun 2020-2024 menegaskan bahwa pengukuran kulitas Indek Kualitas Kebijakan (IKK) dari setiap instansi wajib dilakukan oleh semua instansi pusat ataupun daerah. Sebagai lembaga riset terbesar dan tertua di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memiliki tanggung jawab besar dalam kualitas kebijakan publik yang dikeluarkan, terutama mengenai lembaga riset.

“Perbaikan proses penyusunan kebijakan publik mendesak untuk dilakukan untuk mendorong efektivitas implementasi kebijakan dan efisiensi anggaran negara,” ujar Kepala Pusat Pembinaan Analis Kebijakan Lembaga Antariksa Negara (LAN), Elly Fatimah, dalam forum Sosialisasi Pengukuran Indek Kualiatas Kebijakan LIPI, Jumat (8/5).

Untuk mendapatkan profil kualitas kebijakan, LIPI menetapkan IKK menjadi salah satu target capaian kinerja mulai tahun 2020. Dalam pelaksanaanya, pengukuran IKK dari setiap instansi melekat pada tugas dan fungsi bagian atau biro hukum dan Pejabat Fungsional Analis Kebijakan. “Guna mendukung suksesnya pengukuran IKK diperlukan adanya tim khusus yang berkolaborasi dalam pengukuran ini, melibatkan bagian hukum, staf adminsitrasi dan fungsional analis kebijakan, yang berperan untuk menganalisis persoalan kebijakan, menjembatani hasil kajian, dan analisis kebijakan,” tutur Mila Kencana, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI.

Hal ini sejalan dengan indikator keberhasilan program deregulasi nasional dalam Gerakan Indonesia Melayani sesuai PermenPAN 25/2018 turunan dari Permenko PMK No. 3/2017 tentang Peta Jalan Gerakan Revolusi Mental 2018-2019. Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah harus menyiapkan semua tahapannya. Dimulai dari sosialisasi IKK, pengukuran IKK, dan advokasi terhadap peningkatan IKK.
Dimensi indek kualitas kebijakan terdiri dari agenda setting, formulasi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan. Semua hal tersebut merupakan hal wajib untuk diukur dari semua produk hukum yang dikeluarkan institusi Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah. (rs/ed:sr)