All Posts By

Suci Rahayu

Sapa Media #3, Mengenal Proses Pembuatan dan Uji Klinis Vaksin Covid-19

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Pada Selasa (28/7) lalu, Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menggelar kegiatan Sapa Media secara daring. Pada Sapa Media edisi ketiga ini, LIPI mengajak media-media nasional mengenal proses pembuatan vaksin dan uji klinis vaksin terhadap SARS-CoV2, virus penyebab Covid-19.

Vaksin merupakan zat atau senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Ditengah pandemi Covid-19 ini, keberadaan vaksin terhadap SARS-CoV2 sangat dinantikan.

Saat ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, bekerja sama dengan banyak pihak untuk dapat menemukan vaksin produksi Indonesia. “Hasil uji klinis yang dilakukan di Bandung tentunya sangat diharapkan dan dinantikan hasilnya, karena akan terlihat potensi bagaimana Indonesia dapat secara mandiri memproduksi vaksin,” ujar Deputi Bidang Ilmu Teknik LIPI, Agus Haryono.

Laboratorium Bio Safety Level 3 (BSL 3) LIPI saat ini menjadi fasilitas pendukung pengujian vaksin. Kepala BSL 3 LIPI, Ratih Asmana Ningrum, menjelaskan bahwa pada dasarnya vaksin berarti mengambil keseluruhan atau sebagian mikroba atau pathogen, yang kemudian dilemahkan agar tidak berbahaya saat dimasukkan ke dalam tubuh.

“Tujuan pemberian vaksin adalah membuat tubuh mengenali jenis mikroba atau pathogen, sehingga jika ada pathogen yang sama masuk ke dalam tubuh, tubuh kita sudah tahu cara menghadapinya (membentuk atibodi),” ujar Ratih.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Wien Kusharyoto, menjelaskan ada banyak jenis vaksin. Untuk vaksin SARS-CoV2, LIPI memilih mengembangkan vaksin rekombinan sub-unit, yang berarti vaksin diambil hanya dari bagian tubuh virus, yaitu protein spike (protein S).

Wien menjelaskan Protein Spike dan Receptor Binding Domain (RBD) saat ini menjadi kandidat utama sebagai antigen yang potensial. Tujuan utamanya adalah membentuk antigen untuk meningkatkan sistem imun.

Kendati demikian, Wien menjelaskan bahwa proses pengembangan vaksin hingga dapat diproduksi massal dan digunakan pada manusia dengan benar-benar aman membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ada beberapa tahapan uji klinis yang harus dilakukan untuk memastikan vaksin bekerja dengan efektif dan aman.

“Ada banyak aspek yang harus dibahas. Kita tidak hanya mengembangkan kandidat vaksin itu sendiri, namun ada pula pemilihan partner penelitian yang tepat, dan uji pra klinis. Jika memang semua bagus maka baru bisa lanjut ke uji klinis tahap satu,” ujar Wien.

Wien menjelaskan bahwa pada uji klinis tahap satu, vaksin siap diujikan ke manusia untuk melihat keamanan vaksin dan dosis yang tepat. “Pada tahap ini biasanya diujikan ke 45 relawan untuk kemananan dan pengujian dalam dosis berbeda agar diketahui dosis mana yg lebih tepat dan lebih aman. Pada tahap ini juga dievalusi repson kekebalan apakah antibodi sudah dapat diperoleh,” jelas Wien.

Tahap kedua uji klinis vaksin ditujukan untuk melihat efisiensi vaksin pada lebih banyak relawan dengan rentang usia yang lebih luas. Jika uji klinis ini berhasil, maka vaksin masih harus melalui uji klinis tahap tiga, yaitu evaluasi reaksi tubuh relawan terhadap vaksin.

“Tahap ketiga, kita melihat apakah respon kekebalan yang diharapkan sudah sesuai. Apakah dari vaksin tersebut sudah diperoleh antibodi yang menetralisir virus,” Wien menambahkan. Jika tahapan-tahapan tersebut berhasil, barulah vaksin dapat dilisensi agar selanjutnya dapat diproduksi dan dipasarkan secara massal dengan prosedur penggunaan yang aman.

Wien menjelaskan, vaksin yang dikembangkan LIPI saat ini merupakan vaksin pengembangan tingkat lanjut. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika vaksin yang sudah dikembangkan ternyata kurang efektif. (sr)

Generasi Sains Indonesia: Produktif!

By | Berita BKHH | No Comments

Memperingati Hari Anak Indonesia Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menegaskan peranannya sebagai lembaga pemerintah yang peduli dalam mencerdaskan bangsa. Melalui webinar Talk to Scientists yang mengusung tema “Generasi Sains Indonesia: Produktif”, LIPI mengajak publik untuk berdialog dengan ketiga narasumber yang berkecimpung dan berperan aktif dalam pengembangan minta riset bagi anak dan remaja terutama bagaimana mereka tetap produktif di kala pandemik COVID-19 melanda.

Diawali dengan memperkenalkan kembali program program pembinaan ilmiah bagi anak dan remaja Indonesia agar lebih mencintai riset dengan program pelatihan maupun kompetisi ilmiah,  webinar ini mengupas pengalaman unik alumni Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) 2019, ajang pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI) untuk generasi muda, yang berasal dari wilayah Indonesia. “Selain belajar ilmu penelitian, kita juga belajar bagaimana bersosialisasi dan berbaur dengan orang baru. Makin banyak teman, dan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru,” ujar Chris Maria Angelicue C. Sebagai perwakilan remaja dari belahan timur Indonesia, Maria juga menegaskan bahwa semangat riset remaja NTT tidak kalah dengan remaja Indonesia lainnya dan pengembangan diri menjadi hak yang sama bagi setiap anak.

Kepedulian terhadap perlindungan dan pemenuhan kebutuhan dasar anak Indonesia, seperti pendidikan dan kesehatan, menjadi momentum penting dalam peringatan HAN. Sadar akan dampak pandemi Covid-19 yang juga berpengaruh pada terbatasnya pemenuhan hak anak, LIPI memberikan wawasan baru kepada anak Indonesia bahwa pandemi ini bukan menjadi penghalang untuk tetap produktif dan berprestasi.

Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI yang juga telah berpengalaman sebagai Instruktur PIRN dan Mentor LKIR, Deshinta Vibriyanti, menjelaskan bahwa paling tidak ada tiga hak dasar anak Indonesia yang perlu dilindungi dan dipenuhi, yaitu pendidikan, kesehatan, dan hak untuk bermain. “Anak-anak Indonesia harus terampil dalam intelektual, sosial, dan seni,” ujarnya.

Namun, masa pandemi ini kemudian memberikan banyak keterbatasan untuk mereka memperoleh hak dasarnya tersebut, salah satunya dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan anak Indonesia untuk bersekolah secara daring. Keterbatasan ini seolah menghentikan langkah anak-anak untuk tetap berkreasi dan bersosialisasi. Padahal, menurut Deshinta, 30% dari penduduk Indonesia adalah anak-anak yang dimana dapat menjadi generasi yang produktif dan berkualitas di masa depan jika dapat dibimbing sejak dini.

Lalu, bagaimana untuk tetap produktif di masa pandemi ini? Hal sederhana seperti bangun pagi dan mandi adalah tips dari Deshinta untuk anak-anak Indonesia agar tetap produktif. “Semua perilaku adalah pengkondisian, Bagaimana kita mengkondisikan diri kita untuk belajar, akan berpengaruh pada hasil belajar kita,” ungkapnya.

Selain itu, melakukan penelitian di masa pandemi ini juga tetap bisa dilakukan. Sudah banyak kanal daring yang dapat digunakan untuk teknik pengumpulan data, seperti Google Form. Jika mengharuskan pengumpulan data melalui teknik wawancara juga tetap dapat dilakukan melalui saluran telepon maupun pertemuan virtual.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh narasumber termuda, Muhammad Rasyid Albanna, yang merupakan juara harapan 1 NYIA 2019. Masa pandemi ini tidak menghentikan Rasyid untuk tetap meningkatkan potensi dirinya. Belajar robotik dapat ia lakukan dengan menonton video dan bergabung pada grup robotik di media sosial. Selain itu, Rasyid juga tetap produktif dengan menjadi salah satu finalis International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2020, dengan invensinya berjudul “Say No Smoking Detector”.

Siswa yang baru saja masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pekalongan ini, bercerita bahwa ide penelitiannya kerap kali bersumber dari masalah pada lingkungan sekitarnya, sehingga alat yang ia buat diharapkan dapat menyelesaikan masalah tersebut. “Karena menjadi inventor dapat memecahkan masalah dan membantu banyak orang,” tuturnya.

Sependapat dengan hal tersebut, Deshinta mengatakan bahwa menggali ide penelitian dapat dilihat dari kondisi sekitar dan juga memperkaya ide dengan membaca tulisan ilmiah. “Dengan melihat permasalahan yang ada di masyarakat, kita teliti, kita cari solusinya, dan kita kombinasikan dengan penelitian-penelitian sebelumnya” tambahnya.

Namun, dengan situasi dan kondisi seperti ini, orang tua perlu menyadari bahwa anak-anak tetap hanyalah anak-anak yang butuh bermain dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Mendukung anak untuk tetap produktif pada masa pandemi ini tidak kemudian memposisikan anak pada kondisi yang terpaksa. Anak harus melakukan sesuatu dengan kemauan dan passion masing-masing. Selanjutnya, peran orang tua yang akan menjadi pendamping dan memberikan jalur serta memfasilitasi anak-anak tersebut. (sd/ed:yt)

Selamat Hari Anak Nasional! Anak Terlindungi, Indonesia Maju

#AnakIndonesiaGembiraDiRumah

Serunya Menggali Potensi Penelitian Teknologi Informasi

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu hal yang dimanfaatkan manusia setiap harinya khususnya pada era 4.0 ini, dimana banyak teknologi informasi dan kecerdasan buatan yang dapat digunakan dengan mudah, seperti aplikasi daring pada ponsel pintar. Berkembangnya sektor ini kemudian menjadi salah satu bidang yang menarik bagi kaum milenial, khususnya para remaja. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui kanal Instagram @pirnlipi pada Kamis (16/7) dalam program NGAPEL (Ngobrol Bareng Peneliti) menghadirkan Dr. Hilman F. Pardede, Peneliti di Pusat Penelitian Informatika LIPI, untuk menggali tentang potensi penelitian teknologi informasi yang dapat dilakukan saat ini.

Berkembangnya teknologi tidak hanya berpengaruh pada bidang informatika itu sendiri saja, namun juga berkembangnya berbagai bidang, seperti edukasi, kesehatan, bisnis, jasa, hingga kehidupan bersosial. Banyak teknologi yang sebelumnya tidak terpikirkan telah berhasil dibuat dan dikembangkan pada masa sekarang ini, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Hal ini yang disebut Hilman sebagai peluang, dimana hampir semua sektor dapat diterapkan teknologi informatika di dalamnya. “Peluang dimana kita bisa berperan ketika orang lain belum kepikiran,” ungkapnya.

Seiring dengan perkembangan tersebut, perubahan teknologi dari masa ke masa merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Namun, Hilman yang merupakan pakar informatika dan komunikasi serta pengolahan sinyal multimedia ini menganggap banyaknya perubahan justru akan membawa banyak kemudahan di masa depannya. “Namanya teknologi perubahan itu wajar. Accept and embrace. Kita harus ikut menjadi perubahan itu,” ujarnya.

Dengan lahirnya berbagai macam teknologi baru, orang-orang yang bekerja pada bidang teknologi informatika dituntut untuk dapat cepat beradaptasi pada perubahan. Hilman mengungkapkan kemampuan adaptasi akan lebih cepat jika kita sudah mendalami dasar dari suatu teknologi, karena teknologi baru hanyalah varian yang tidak banyak perubahan signifikan dari dasarnya. “Jika ingin cepat beradaptasi, pegang kuat basic informatika maka akan lebih mudah mempelajari hal-hal baru,” tuturnya.

Hilman juga mengatakan bahwa masih banyak potensi yang dapat dikembangkan dalam dunia teknologi informatika, seperti tren saat ini yaitu Machine learning, Artificial intelligence, dan Big data. Terlebih pengembangan Teknologi informasi di Indonesia yang merupakan potensi pasar yang besar dan sangat unik. Tidak ketinggalan,  pengembangan Cyber security juga akan menjadi peluang yang sangat besar di masa yang akan datang, karena kebutuhan setiap orang untuk merasa aman dalam menggunakan internet akan meningkat, dan hal itu membuat setiap perusahaan meningkatkan keamanannya melalui cyber security untuk mendapatkan kepercayaan para pengguna.

Generasi muda yang tertarik pada bidang teknologi informatika tidak perlu khawatir akan kebutuhan data terkait informatika, karena sudah banyak data yang tersedia secara publik dan dapat diakses gratis. “Data mining atau machine learning dapat diakses di kaggle.com contohnya, salah satu yang biasa dicari untuk sumber data tertentu,” jelas Hilman. Selain itu, Pusat Penelitian Informatika LIPI juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk kerja praktek maupun mengolah data untuk tesis atau skripsinya disana. (sd /edt yt)

Sapa Media #2: Kegiatan Konservasi dan Penelitian Kebun Raya selama Masa Pandemi

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Sebagai upaya mengurangi penyebaran Covid-19, Kebun Raya di bawah pengelolaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ditutup sementara untuk publik mulai 19 Maret 2020 lalu. Pekan lalu, Selasa (7/7), Kebun Raya Bogor, dan Kebun Raya Cibodas kembali dibuka dengan sejumlah protokol kunjungan dan evaluasi berkelanjutan.

Saat ini pembukaan Kebun Raya masuk dalam fase 1. Seluruh transaksi, baik tiket maupun penjualan makanan, dilakukan secara digital untuk mengurangi kontak fisik. Jumlah pengunjung juga dibatasi sebagai tindakan dari kontrol keramaian dan jarak antar pengunjung dapat tetap terjaga.

“Kita membuka dalam beberapa fase. Kalau fase 0 sudah baik, makan kami tingkatkan, dan seterusnya,” ujar Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, pada pertemuan Sapa Media #2: Riset dan Konservasi Keanekaragaman Hayati di Masa Kenormalan Baru, melalui Zoom meeting, pada Kamis (16/7).

Namun, selama masa penutupan sementara, kegiatan konservasi dan penelitian tetap berjalan, begitu pula dengan pemeliharaan dan perawatan tanaman. “Penutupan selama empat bulan bukan berarti kegiatan penelitian berhenti. Penutupan sementara untuk publik tapi konservasi dan penelitian tetap berjalan. Walaupun sebagian besar dikerjakan dari rumah, tapi ada sebagian kecil yang tetap melakukan pemeliharaan dan perawatan,” ujar Kepala Pusat Konservasi dan Kebun Raya LIPI, Hendrian.

Selama 2020, Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya menghasilkan beberapa penelitian. Terdapat tujuh jenis baru tanaman, yaitu Hoya sulawesiana, Hoya surisana, Bulbophyllum acehense Metusala, Dendrobium rubrostriatum Metusala, Begonia enoplocampa, Begonia sidolensis, dan Begonia tjiasmantoi.

Ada juga penemuan tiga varietas baru begonia, yaitu Begonia crested, Begonia lugrayasa, dan Begonia bimasena. Selama masa pandemi, Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya juga menetapkan satu status konservasi baru, yaitu untuk Cibotium arachnoideum yang kini berstatus endangered atau terancam.

Kegiatan Sapa Media diadakan untuk menyampaikan perkembangan terkini mengenai aktivitas LIPI kepada media, khususnya di era new normal. Pada kegiatan Sapa Media, Humas LIPI mengundang media baik cetak, online, maupun siar, untuk mendapatkan sudut pandang media dalam memetakan kebutuhan hasil riset dan aktivitas penelitian yang diperlukan oleh masyarakat. (sr)

Paradigma Baru Riset Indonesia

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Paradigma riset di Indonesia harus berubah menuju arah kolaborasi antara peneliti dengan swasta. Dalam mewujudkan kolaborasi, dimulai dari SDM IPTEK yang ditata melalui skema manajemen talenta yang sesuai standar global. Selain itu, peneliti harus mengubah pemikirannya untuk membuka diri menjadi memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Selama ini peneliti masih berurusan dengan hal-hal hilir, hal ini tentu harus diubah. Peneliti cukup berhenti di hak paten, fokus pada kekayaan intelektual Untuk itu kolaborasi dengan swasta menjadi penting agar hasil riset bisa digunakan di masyarakat”, ungkap Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko pada Minggu (28/6) di Webinar IABIE Talks 2020 “Tribute To Habibie: Masa Depan Riset dan Inovasi Indonesia”.

Contoh yang baru saja terjadi pada iklim riset Indonesia ialah hasil kolaborasi antara peneliti dengan swasta maupun badan riset lainnya dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19. “LIPI melalui lab Bio Safety Level-3 dalam waktu dekat ini akan bekerja sama dengan Lembaga Eijkman dalam pengujian vaksin. Selain itu, saat ini masih berlangsung uji klinis Immunomudulator dari jambu biji merah, hasil penelitian LIPI yang berkolaborasi dengan swasta yang ditujukan bagi pasien ringan dan sedang di Wisma Atlet. Di masa depan saya berharap hal-hal seperti ini semakin meningkat karena banyak hal yang bisa dijadikan kolaborasi,” pungkas Laksana Tri Handoko. (hmw)

Keseruan Penelitian di Laboratorium sebagai Upaya Penanggulangan Covid-19

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Dalam upaya mendukung percepatan penanganan pandemi COVID-19, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) turut aktif membantu penanggulangan penyakit Covid-19 melalui riset dan inovasinya dalam pengujian spesimen virus corona, pemetaan uji coba obat herbal untuk penyembuhan Covid-19, hingga pelatihan relawan untuk ditempatkan di Laboratorium Biosafety Level-3 (BSL-3). Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI yang juga merupakan Kepala Fasilitas BSL-3 LIPI, Dr. Ratih Asmana Ningrum, membahas keseruan dan kegiatan yang dilakukan peneliti di laboratorium BSL-3 melalui program virtual NGAPEL (Ngobrol Bareng Peneliti) yang ditayangkan secara langsung melalui kanal Instagram @pirnlipi pada Kamis (28/5).

Ratih menjelaskan bahwa setiap mikroba penyebab penyakit memiliki sifat masing-masing dan tingkat bahaya yang berbeda. “Ada suatu sistem penggolongan bahaya dari level 1-4. Semakin tinggi tingkatannya maka akan semakin bahaya.” ujarnya. Laboratorium BSL-3 adalah Laboratorium yang didesain secara khusus untuk menangani, menguji, dan melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan mikroba yang tingkat bahayanya ada pada level 3, seperti virus SARS-CoV2.

Laboratorium BSL-3 berperan penting dalam upaya penanganan Covid-19. “Jika mikroba pada level tertentu diuji di Laboratorium yang tidak semestinya, maka sampel mikroba tersebut akan berpotensi untuk menginfeksi orang sekitar,” ungkap Ratih. Fasilitas Laboratorium BSL-3 LIPI memiliki infrastruktur yang lengkap dan telah bersertifikasi sesuai standar WHO sejak tahun 2018 oleh World BioHaz Tec Pte Ltd. yang diperbarui setiap tahun.

Selain melakukan deteksi dan riset di bidang Covid-19, LIPI juga telah menyelenggarakan pelatihan untuk tenaga pendukung yang akan bertugas pada garda depan dalam penanganan virus ini. “Pelatihannya meliputi tata cara penggunaan alat pelindung diri dengan benar hingga cara melakukan deteksi” jelas Ratih. Terdapat 848 orang dari seluruh Indonesia yang telah mendaftar pada gelombang pertama pelatihan ini.

Dirinya menyebutkan bahwa orang-orang yang ingin bekerja di Laboratorium BSL-3 harus sehat secara fisik, disiplin, dan dapat mengikuti prosedur yang telah disusun. “Hal ini penting untuk keselamatan bersama dikarenakan kita bekerja di dalam tim,” tambahnya.

Ratih berpesan pada generasi muda Indonesia bahwa untuk menjadi peneliti tidak terbatas pada suatu jurusan tertentu. Selain itu, dirinya juga memberikan motivasi bagi para tenaga pendukung yang bekerja di Laboratorium untuk tetap semangat dalam melakukan tugasnya. “Kita berbuat kebaikan untuk sesama dengan sisi kemanusiaan. Kita juga membantu orang yang saat ini sedang membutuhkan,” tutupnya. (sd)

Mengukur Kualitas Kebijakan di Lembaga Riset

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Peraturan Menteri PAN No 25 tahun 2020 tentang Road Map Reformasi Birokrasi tahun 2020-2024 menegaskan bahwa pengukuran kulitas Indek Kualitas Kebijakan (IKK) dari setiap instansi wajib dilakukan oleh semua instansi pusat ataupun daerah. Sebagai lembaga riset terbesar dan tertua di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memiliki tanggung jawab besar dalam kualitas kebijakan publik yang dikeluarkan, terutama mengenai lembaga riset.

“Perbaikan proses penyusunan kebijakan publik mendesak untuk dilakukan untuk mendorong efektivitas implementasi kebijakan dan efisiensi anggaran negara,” ujar Kepala Pusat Pembinaan Analis Kebijakan Lembaga Antariksa Negara (LAN), Elly Fatimah, dalam forum Sosialisasi Pengukuran Indek Kualiatas Kebijakan LIPI, Jumat (8/5).

Untuk mendapatkan profil kualitas kebijakan, LIPI menetapkan IKK menjadi salah satu target capaian kinerja mulai tahun 2020. Dalam pelaksanaanya, pengukuran IKK dari setiap instansi melekat pada tugas dan fungsi bagian atau biro hukum dan Pejabat Fungsional Analis Kebijakan. “Guna mendukung suksesnya pengukuran IKK diperlukan adanya tim khusus yang berkolaborasi dalam pengukuran ini, melibatkan bagian hukum, staf adminsitrasi dan fungsional analis kebijakan, yang berperan untuk menganalisis persoalan kebijakan, menjembatani hasil kajian, dan analisis kebijakan,” tutur Mila Kencana, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI.

Hal ini sejalan dengan indikator keberhasilan program deregulasi nasional dalam Gerakan Indonesia Melayani sesuai PermenPAN 25/2018 turunan dari Permenko PMK No. 3/2017 tentang Peta Jalan Gerakan Revolusi Mental 2018-2019. Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah harus menyiapkan semua tahapannya. Dimulai dari sosialisasi IKK, pengukuran IKK, dan advokasi terhadap peningkatan IKK.
Dimensi indek kualitas kebijakan terdiri dari agenda setting, formulasi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan. Semua hal tersebut merupakan hal wajib untuk diukur dari semua produk hukum yang dikeluarkan institusi Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah. (rs/ed:sr)

LIPI Jajaki Kerjasama Pembangunan Kebun Raya Daerah dengan Kabupaten Kolaka

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjajaki kerja sama pembangunan Kebun Raya Daerah dengan Pemerintah Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan Bupati Kolaka, Ahmad Fauzi ke kantor LIPI pada Kamis (13/2) di Jakarta.

“Kabupaten Kolaka berencana membangun Kebun Raya Daerah dengan koleksi flora endemik Kolaka,” ujar Ahmad Fauzi. Dirinya menjelaskan, Kolaka memiliki berbagai potensi sumber daya alam diantaranya pertanian, perikanan, perkebunan, pariwisata, kehutanan, dan pertambangan. “Pemerintah Kabupaten Kolaka akan menyediakan dana untuk program-program kerja sama dengan LIPI,” ujar Ahmad.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko menjelaskan, LIPI dan Kabupaten Kolaka sebelumnya belum pernah menjalin kerja sama. “Kabupaten Kolaka telah menginisiasi kerja sama dengan LIPI dengan menyampaikan informasi-informasi terkait rencana kerja sama pembangunan Kebun Raya Daerah yang akan ditindaklanjuti oleh Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, “ ungkap Handoko.

Dirinya menerangkan, tindak lanjut berikutnya adalah studi kelayakan lahan Kebun Raya Daerah. “Dalam hal ini yang perlu diperkuat adalah komitmen jangka panjang yang perlu diperjuangkan,” pungkas Handoko.

Sumber: Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Wujudkan Generasi Ilmiah, Millenial Harus Kompetitif, Inovatif, dan Kritis

By | Berita BKHH | No Comments

Purwokerto, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendukung kegiatan pembinaan ilmiah. Hal itu dibuktikan dengan turut serta mendukung kegiatan Airforce Fair 2020 yang berlangsung selama 2 hari (17-18/1) di SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah, Purwokerto. Kegiatan tersebut menghadirkan para pakar LIPI di bidang sosial dan eksak.

“Generasi millenial perlu dikenalkan dan mengenal dunia penelitian. Mereka harus didorong untuk berkompetisi, berinovasi, dan berpikir kritis.” ujar Dyah Rachmawati Sugiyanto, Kepala Bagian Humas dan Informasi Publik Biro Kerja Sama dan Hukum dan Humas LIPI.

Minat dan rasa cinta terhadap dunia ilmu pengetahuan, menurut Dyah, perlu terus dipupuk untuk menciptakan individu yang berkualitas, berdaya saing, dan mandiri. “Dukungan dan komitmen semua pihak, khususnya orang tua dan guru, dalam mewujudkan generasi ilmiah Indonesia sangat diperlukan,” terangnya.

“Kegiatan ini merupakan salah satu wujud komitmen sekolah Al Irsyad dalam mendukung aktivitas ilmiah siswa,” ujar Kepala SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah, Galih Rakasiwi. Dirinya menyebutkan, bahwa kegiatan tersebut merupakan wadah mengkomunikasikan sains lewat lomba karya tulis ilmiah siswa untuk tingkat SMP dan pameran karya untuk tingkat SD.

Ketua harian LPP Am Irsyad, Abdul Qohin, menambahkan bahwa meningkat skill dan kompetensi salah satunya adalah kecakapan dan inovasi. “Dengan kegiatan kompetisi ilmiah seperti ini, generasi muda dilatih untuk berpikir kritis dan meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah,” lanjutnya.

Tiga peneliti LIPI hadir berperan serta sebagai dewan juri dan mentor dalam pembinaan ilmiah. I Made Sudiana, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI yang diundang sebagai mentor dalam kegiatan Workshop Guru menyampaikan, kegiatan seperti ini dibutuhkan tidak hanya untuk siswa namun juga guru pendamping kompetisi ilmiah. “Bagi pemula, workshop ini dapat membentuk keinginan untuk tahu tentang penelitian, dan bisa membuat guru dan pembimbing memahami kriteria karya yang kompetitif dan ke depannya agar bisa menerapkan metode ilmiah yang sesuai,” jelasnya.

Muhammad Ghozali, peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI yang bertugas menjadi salah satu juri Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Lomba Pameran Karya Ilmiah (LPKI) Airforce Fair 2020 menambahkan, “Kompetisi ilmiah semacam ini merupakan terobosan yang bagus, hanya perlu digali lagi originalitas karya.”

Peneliti Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, Muhammad Alie Humaedi yang juga ditunjuk sebagai juri dalam rangkaian kegiatan tersebut menilai bahwa kegiatan pembinaan ilmiah yang didorong oleh inisiatif sekolah memerlukan dukungan baik itu akses, kebijakan ataupun partisipasi. “Tugas LIPI adalah untuk memastikan bahwa di daerah lain seperti Jawa Barat juga ada sekolah yang dapat menjadi pusat gravitasi kegiatan pembinaan ilmiah,” pungkasnya. (wh/ed: drs)

Sumber: Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

LIPI Jajaki Kerja Sama dengan DPRD Kalimantan Selatan untuk Bangun Kebun Raya Benoa

By | Berita BKHH | No Comments

Jakarta, Humas LIPI. Keberadaan kebun raya di suatu daerah memiliki fungsi sebagai konservasi, pusat penelitian, edukasi, dan juga wisata. Presiden Joko Widodo mengeluarkan Perpres tentang pembangunan kebun raya di Provinsi. Oleh karena itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai lembaga riset terus mendorong pemerinatah daerah dalam mewujudkan pembanguna kebun raya di Indonesia.

Jumat (6/12), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Selatan dan Balitbangda Kalimantan Selatan mengunjungi kantor LIPI di Jakarta untuk mendiskusikan kerja sama dalam rencana pembangunan Kebun Raya Benoa, Kalimantan Selatan. “LIPI terus mendorong semua pihak untuk mendukung program pemerintah ini. Pemerintah Provinsi cukup serius dalam pengembangan kebun raya,” ujar Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries, saat menyambut kunjungan DPRD dan Balitbangda Kalimantan Selatan.

Menurut Nur, kebun raya bukan hanya sebuah karya, namun juga sebuah warisan untuk masa depan. Kebun raya diharapakan dapat melestarikan kekayaan dan keragaman hayati Indonesia sehingga generasi berikutnya dapat terus menikmatinya.

Pihak DPRD Kalsel menyampaikan bahwa kebun raya Benoa dapat dikelola dengan baik dan tidak hanya berhenti pada pembangunan saja. “Pengelolaan kebun raya harus sesuai dengan fungsi konservasi, penelitian, edukasi, dan pariwisata, agar kebun raya dapat benar-benar menjadi bagian dari sejarah.”

Balitbangda Kalsel berpendapat yang terpenting adalah status tanah kebun raya yang jelas. Mereka juga menginginkan agar status tanaman Kasturi di IUCN dapat dipertegas sebagai bunga langka. Mereka optimis jika Kebun Raya Beno dapat terbangun dengan baik atas kerja sama semua pihak.(sr)