Public Relations 2018: Harus Semakin Memahami Publik

Media cetak boleh mati, jurnalisme tidak akan pernah mati. Demikian yang disampaikan oleh CEO Majalah Public Relations (PR) Indonesia, Asmono Wikan dalamPR Indonesia Outlook 2018 dengan tema: “Public Relations is Changing: Being Relevant to Understand Audience”. Kegiatan berlangsung selama 3 (tiga) hari, tanggal 5 s. d. 7 Desember 2017, di Hotel Ambhara, Jakarta.

Asmono mengatakan, dunia memang kini semakin modern, dicirikan perkembangan teknologi yang kian menjadi-jadi. “Era komunikasi pun sudah menggapai generasi melenia. Ditandai dengan penggunaan media sosial yang makin massal. Frekuensi penggunaan media sosial yang berlebihan malah ditenggarai menyebabkan generasi “Zaman Now” kian jauh dari pergaulan sosialnya, bahkan bisa menjadi antisosial, tuturnya.

Dewi Nuryaningsih, Staf Humas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang turut menghadiri kegiatan tersebut mengatakan bahwa berdasarkan diskusi, peran dan fungsi PR sudah sedemikian maju. Apalagi, praktik-praktik terbaru PR sudah disesuaikan dengan perubahan masyarakat dewasa ini, yaitu berkuasanya era digital. “Semua pekerja PR sudah mulai berubah dan meninggalkan paradigma lamanya. Alhasil, PR menempati posisi yang terhormat dan diperhitungkan, disamping fungsi lainnya seperti marketing dan sales,” jelasnya.

Suhardjo Nugroho (Ketua Umum Asosiasi Perusahaan PR Indonesia) membungkus diskusi dengan menyimpulkan bahwa trend PR 2018 mencakup 4 hal, yaitu issue management, digital storytelling, social listening, dan big data. “Keempat hal tersebut menuntut PR di 2018 harus semakin memahami publiknya,” tegasnya.

Kegiatan tersebut menghadirkan para Guru PR dan pembicara yang berkompeten di bidang PR. Kegiatan dihadiri para praktisi Humas dari instansi pemerintah dan swasta. (dn/drs)

 

Leave a Reply