Kedepankan Dialog Guna Cegah Konflik di Papua

Survey yang dilakukan change.org mengenai persepsi warganet terhadap isu papua telah dipaparkan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Kamis (14/12) lalu. Survey tersebut dilakukan kepada 27298 responden, selama 3 minggu di bulan November 2017.

Sebanyak 19 pertanyaan diajukan kepada 62% laki-laki dan 38 % perempuan. Lebih detil, responden survey merupakan 2% penduduk Papua asli, 3% penduduk Papua non asli, dan 95% penduduk luar Papua.

Hasil survey menunjukkan bahwa permasalahan umum yang terbesar di Papua adalah 44% tekait kualitas pendidikan yang rendah. Dari 20 jenis permasalahan yang diidentifikasi melalui survey, responden berasumsi bahwa penyelesaian masalah-masalah tersebut mampu diselesaikan oleh presiden dan warga Papua itu sendiri.

Dr. Adriana Elisabeth, Peneliti Senior LIPI bidang Politik yang saat itu berperan sebagai moderator diskusi meresume beberapa butir, antara lain: informasi melalui media online sejalan dengan kebijakan Presiden Jokowi untuk internasional. “Berkat survey melalui media online, publik dapat mengetahui kondisi papua, tanpa harus berkunjung ke Papua,” sebutnya. Adriana juga melihat adanya kekhawatiran masyarakat Papua tentang masa depan mereka. Ia juga mencermati hasil survey yang menunjukkan responden sepakat bahwa dialog (nasional) penting sekali dilakukan untuk penyelesaian masalah Papua. Menurutnya, dialog adalah pendekatan yang efektif dalam mencegah terjadinya konflik di Papua.

Paparan hasil survey ditutup dengan data bahwa reponden memaknai Papua “bukan rendahan”, “tidak primitif”, “bukan hutan saja”, “cinta damai”, “tidak seseram itu”, “tidak ada kanibal”, “bukan koteka saja”.

Sebagai informasi, diskusi ilmiah ini dihadiri oleh beberapa narasumber, yaitu Jaleswari Pramodhawardani (Deputi V Kantor Staf Presiden), Peter Neles Tebay (Tokoh Papua), Usman Hamid (Amnesty International Indonesia), dan Mumu Muhajir (Auriga). (drs)

Leave a Reply